|
Jangan kuatir, senyumnya berkata.
Lama setelah masa akil balig, gue baru menyadari bahwa pada masa pertumbuhan itu segala macam tindakan gue dikendalikan oleh hormon-hormon yang menggila. Dalam satu hari gue bisa luar biasa manis, bantuin Emak cuci piring, atau menggantikan tugas Mama untuk bersih-bersih rumah, pokoknya segala sesuatu yang biasanya butuh usaha keras untuk bisa bikin gue ngelakuinnya. Setelahnya, dalam seminggu gue bisa jadi totally bitch, gondok ga karu-karuan, super super sensitif, teriakin om gue yang gue anggep ikut campur sama urusan keluarga gue sementara keluarganya sendiri bukan tergolong keluarga bahagia damai sejahtera. Bau badan gue luar biasa sedap, rambut-rambut mulai nongol dari segenap kumpulan pori-pori kulit yang bikin gue ga lagi berjalan telanjang bulat dari kamar mandi ke kamar tidur, suara yang orang jawa bilang agora-gori alias pecah bikin nyokap gue stress tiap kali gue nyoba niru Axl-nya Guns 'n Roses nyanyiin November Rain.... Tapi kakak gue adalah penyebab dari 7 tahun rasa iri yang menjadi karib dalam perjalanan gue memenangkan perang melawan hormon. Kelahiran kakak dan perjalanan hidupnya setelah itu beriringan dengan kejadian-kejadian luar biasa yang merubah hidup Emak dan Mama secara total. Bertiga mereka menjalani hidup yang penuh kekerasan dan intimidasi kemiskinan. Karena sejarah itu, pada akhirnya (dan sangat terlambat) gue bisa menerima fakta bahwa Emak menyayangi kakak gue lebih dari cucu-cucunya yang lain. Sebagai orang paling tua di keluarga gue, maka Emak adalah ujung dari pengambilan keputusan. Mama, sekalipun berstatus sebagai kepala keluarga namun tidak berdaya ketika Emak bilang 'ENGGAK'. Berhubung kakak gue adalah kesayangannya, maka keputusannya seringkali sangat merugikan gue sebagai anak kedua, dan menguntungkan kakak gue. Sewaktu masuk SMP, kakak gue dibelikan sepeda BMX baru. Tentu saja gue juga minta dibelikan, yang kemudian dijanjikan oleh Mama bahwa gue akan dibelikan sepeda pada saat gue masuk SMP. Waktu itu gue kelas 5 SD, jadi harus menunggu 2 tahun lagi sampai datangnya BMX impian. Dengan sabar gue menanti 2 tahun untuk lewat, sampai akhirnya sehari setelah acara perpisahan SD gue, beberapa orang datang ke rumah sambil membawa sepeda merek Federal. Gue melonjak-lonjak kegirangan, tentu saja. Sepeda Federal saat itu sedang booming, kan? Gue membayangkan riap pagi membayangkan mengendarai sepeda yang stangnya lurus itu ke SMP gue yang baru. Bergegas gue menyobek plastik pembungkus badan sepeda, lalu ngebut menyusuri gang-gang kampung. Sampai kembali di rumah dengan terengah-engah tapi hati melambung tinggi banget, Mama sudah menunggu di teras rumah. Gue lari masuk ke dalam, melihat Emak sedang duduk. Mama menyusul masuk ke dalam. Gue ambil air minum lalu tersedak karena terburu-buru menghilangkan haus. Setelahnya gue pamit untuk mencoba sepeda baru gue sekali lagi. Barrie, sepedanya dimasukkin dulu ya. Barrie mo coba lagi, Maaa... Masukin dulu, Ri. Sini Mama mau ngomong. Mama membawa gue ke ruangan dimana Emak sedang menunggu. Must be something really bad. Awfully awful. Rasa dingin merayapi hati gue. Sepedanya buat kakakmu. Gue terhenyak. Napas gue seperti sesak, dan aliran darah gue deras menyerbu naik ke kepala. Nyuuutttt.... Daddie kan udah punya! Suara gue bergetar. Desis, tepatnya. Federal kan lebih tinggi dari BMX, jadi memang lebih cocok buat Daddie. Mama sama Emak memang sengaja belinya begitu. Jangan...jangan kali ini. Jangan yang ini. Gue menggapai-gapai kegembiraan gue waktu ngebut mengendarai Federal yang saat itu nangkring di teras rumah. Hilang sudah, hilang.... Jadi Barrie dapet bekasan?? Nggak mau!! EMOOOHHHH!!!! Yang itu udah jelek!!!! NGGAK ADILLL!!!! Airmata gue nyaingin Niagara Falls. Suara gue melebihi debur ombak pantai selatan ketika pecah di tebing karang. Tapi keputusan Emak adalah dinding setinggi langit dan lebih keras dari kekerasan berlian. Setiap pagi dengan menahan rasa ngilu di tenggorokan saking gondoknya, gue mengayuh pedal BMX bekas sialan itu. Sampai di sekolah gue mencari tempat yang aman untuk menyamarkan si buruk rupa: kumpulan sepeda-sepeda BMX yang cuma berjum lah 5 biji, bersebelahan dengan kumpulan sepeda ontanya penjaga sekolah. Di kompleks parkir sebelah ratusan sepeda Federal berkumpul tinggi menjulang. Pernah gue mencoba untuk bikin BMX gue kelihatan baru. Gue beli cat di toko besi dan hasilnya si buruk rupa seperti minta untuk dibunuh daripada menanggung malu saking jeleknya. SMP gue adalah SMP no 2 di Cirebon. Kakak gue di SMP favorit no 1. SMA gue adalah SMA no 2 di Cirebon. Kakak gue di SMA favorit no 1. Kakak gue dapat Ranking 1 di kelasnya, dan masuk ke program fisika. Gue masuk ranking 10 besar dan mengisi semua pilihan program dengan IPA dan IPA. Kakak gue lulus UMPTN, pilihan pertama, di salah satu institut teknologi paling hebat di Surabaya. Gue melepas 1 tahun masa kuliah gue, lalu pindah ke Univ Negeri di Surabaya. Kakak gue anak ke satu. Gue anak ke dua. Gue tumbuh dengan dengki dan iri, selalu gagal mencoba untuk memberontak pada pola satu, baru dua. Gue ga pernah lagi bicara sama kakak gue sejak peristiwa sepeda Federal itu. |
| simon May 8, 2005 05:22 PM PDT gw juga punya kakak cowok. But we're total enemies. Always in competition. Tapi gw manfatin die aje. He's older so he paved the way. I only got closer to him as adults who each live in separate countries. hmm....family.... | ||
| rio April 29, 2005 01:11 PM PDT hmmmmmmmm... kadang emang susah untuk memahami alasan orang tua. semua ngalamin, bar, dan pasti ada hikmah, asal lo mau bersikap positif. ditunggu sekuelnya. cepetan dong ah! | ||
| mindless buddy April 25, 2005 08:13 PM PDT Barrie... gw malah kebalikannya, gw ngerasa kalo malah gw yang selalu dinomor satukan sama ortu... and do you know? gw malah merasa tersiksa di jadikan golden boy begitu. Adek gw tabah... nrimo... ngalah... karena dia sadar akan 'kekurangannya'. Puncaknya adalah ketika mau masuk SMA. Jelas-jelas NEM gw waktu itu bisa masuk ke SMA 1, tapi gw dengan keras menolak untuk masuk ke sana. Dan pemberontakan-pemberontakan lainnya terus gw tunjukin ke ortu sampe pada puncaknya nilai gw jeblok pas kelas 2 SMA, gw mulai coba-coba minum, neken, dan kebodohan-kebodohan lainnya. Dari semua episode kehidupan yang sudah gw jalanin, episode kelas 2 SMA inilah yang paling gw sesalin... untung setelah itu gw segera sadar en menata hidup gw lagi. Tapi tetep gak bisa lurus 100%, tapi dalam tarap wajar. Akhirnya gw bisa lulus dengan NEM 50,51 dari SMA. Barr... tidak selamanya menjadi orang nomor 1 itu enak... selama kita melihat ketidak adilan didepan mata kita yakin... hati kecil kita akan berontak... | ||
| FireWalk April 21, 2005 11:01 PM PDT The story is not even come to and end, yet, Wo. Tunggu aja sequel nya ya! | ||
| bowo April 21, 2005 05:42 PM PDT wah baca cerita lo, gw terharu...:) gw juga punya kakak cowok. dulu setiap kesalahan, atau kebodohan yang gw lakukan, bokap gw marah, ujung2nya banding2in kakak gw. most kemauan kakak gw, bokap turutin, sementara gw jadi anak yang gak berani minta2 ke bokap...tapi untungnya itu berjalan sampai smp...gw 'panas' dong...sejak smu ampe kuliah, akhirnya gw bisa buktikan kalo gw malah bisa jauh lebih baik dari dia ;) | ||
| Leave a Comment: |