Entry: Pahlawan Pulang Perang (I) Sunday, April 17, 2005



Dari sebuah perang yang cuma berakhir ketika kau mati,
seorang pahlawan pulang ke rumah.

Malam Lebaran tahun 1988. Mama dan emak bertekun meniti jarum mesin jahit. Biasanya mereka ngobrol, tapi sudah dua hari mereka ga tidur menyelesaikan baju pesanan orang. Waktu itu jam 10 malam. Gue (kelas 4 SD)dan kakak gue (kelas 1 SMP) menunggu sambil duduk di depan pintu rumah, anak-anak kampung berombongan lewat di gang rumah kami dengan tetabuhan dan lantunan takbir. Mama sudah selesai dengan gaun muslim warna hijau, dan menuju meja setrika untuk melicinkan baju itu.

Yang kami tunggu adalah baju itu selesai dijahit kemudian tugas kami untuk mengantarkannya ke pelanggan yang siang harinya marah-marah karena kuatir besok tidak bisa shalat Ied dengan menggunakan baju barunya.

Malam itu kami bergabung bersama orang-orang yang merayakan malam takbiran. Angkot yang kami naiki menaikan tarif hingga 50%, beberapa kali terjebak macet. Kantuk gue hilang, berdoa agar kami selamat sampai nanti kembali ke rumah, tidak ada anak-anak yang memalak kami,karena gue yakin dari sekian banyak orang yang tumpah ruah di jalan, gue dan kakak gue paling bertampang cina. Anak-anak dengan tampang Cina selalu jadi sasaran empuk berandal tukang palak.

Baju dengan sukses kami antar ke pemiliknya, kami pulang dengan dibekali 2 tumpuk rantang berisi kari ayam dan sambal goreng hati kambing. Serta tentu saja ketupatnya. LEwat depan Yogya Dept. Store, kakak gue tiba-tiba meminta supir angot untukmenurunkan kami.

Nanti Mama marah.

Bilang aja macet!

Rantangnya? Ketupatnya?

Ya dibawa aja! Kita main ding dong sebentar. Ibu tadi kasih kita uang lebih.

Gue membayangkan permainan Street Fighter. Sudah berhari-hari gue ingin mencoba untuk memainkan karakter Guile yang bisa mengeluarkan jurus tendangan bulan sabit yang mematikan. Lawan terberat gue bisa jadi Ken atau Ryu, tapi gue sudah mempelajari kordinasi gerakan dan tombolnya. Macet cukup masuk akal untuk dijadikan alasan, dan hanya pada malam lebaran supermarket itu buka hingga malam.

Kami sampai ke rumah pukul 12 malam. Emak terduduk di kursi, lelah dan nampak semakin tua karena kuatir. Mama berdiri di depan pintu sambil memegang sapu lidi.

Malam itu kami berdua tidur dengan isak tertahan. Paha dan kaki kami berbilur bekas lidi yang terasa perih. Malam itu kami tidak jadi berpesta ketupat dan kari ayam.


   1 comments

ben
April 18, 2005   04:45 PM PDT
 
badung juga ya :)

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments