Entry: Rainmaker (Impian Kemarau) Saturday, April 09, 2005



Guru bahasa indonesia gue di SMU pernah bilang dalam satu sesi mengajarnya: 'konon, semakin buram dan absurd suatu puisi maka semakin dalam pula keindahannya.' Puisi yang gue buat kemudian, dan dikumpulkan adalah sekumpulan kata-kata yang (seingat gue) tidak saling sambung, absurd, dan lama setelahnya gue menyadari bahwa puisi itu sama sekali tidak bermakna, bahkan untuk gue sendiri.

Entah apa pendapat guru gue, karena setelahnya ia tidak mengevaluasi puisi-puisi yang dibuat oleh murid-muridnya.

Pagi tadi, atas rekomendasi seorang teman, gue nonton sebuah art movie berjudul The Rainmaker (Impian Kemarau), film pertama Ravi Bharwani, sutradara lulusan IKJ menurut info yang gue dapet dari official website film ini. Ada Ria Irawan, satu-satunya nama terkenal yang ada di deretan pemain, lalu Clara Shinta dan Levie Hardigan. Di deretan produser hanya satu nama yang gue tau: Shanty Harmayn.

Tag line film sudah menegaskan bahwa Rainmaker akan mengajak kita untuk berpuisi: A poem of hope, dream and illusion.



Harapan.

Mimpi.

Ilusi.

Apa yang bisa lebih absurd lagi? Dan, merujuk pada ucapan guru bahasa gue, maka absurditas adalah wilayah kekuasaan puisi.

Untungnya Rainmaker bukan puisi yang buram, melainkan realisme yang berpuisi lewat adegan dengan gerakan yang lambat (buakn slow motion), bisu tanpa dialog, dan gending serta lagu jawa yang sesekali dinyanyikan oleh salah satu tokohnya. Gambar-gambar yang ada cukup efektif mengkomunikasikan dengan jelas apa yang menjadi harapan, apa yang menjadi impian, apa yang menjadi ilusi.

Karenanya Rainmaker menjadi puisi paling obyektif yang gue tau dengan bahasan 'umum' (kalau bukan klise) macam penderitaan akibat bencana kemarau, seks versus kekuasaan dan seks versus cinta. Beberapa scene suskes gemilang menghantarkan kepiluan melalui adegan boneka mandi pasir, atau harapan yang digambarkan dengan adegan pengejaran bayangan awan. Dalam hal ini gue bilang Rainmaker berhasil mengefisiensikan gambar-gambarnya untuk berpuisi.





Hanya saja gue tidak berhasil menemukan kedalaman yang lebih dari, misalnya, pergumulan batin antar tokohnya, bila gue membandingkan Rainmaker dengan The Thin Red Line nya Terrence Malick. Terrence Malick menggunakan media gambar dan narasi untuk berpuisi, sementara Rainmaker menyerahkan kedalaman puisinya kepada penonton dengan tidak memberi dialog di sebagian besar adegannya, dan mengharapkan penonton untuk berpuisi sendiri dengan arahan gambar-gambar yang ada. Tapi komunikasi yang dibangun Rainmaker bisa jadi lebih efektif dibandingkan Pasir Berbisik. Tema yang general ternyata bisa menjaga keterhubungan penonton dengan keseluruhan cerita.




Generally gue suka dengan film ini karena menjadi berbeda dengan film-film Indonesia lain yang ditawarkan belakangan ini. Bkan sok nyeni...cuman emang jarang aja film INdonesia nyeni begini. Jangan terlalu percaya sama apa yang gue tulis di atas secara gue bukan kritikus film beneran. Baca aja, dan kalo sempet selamat menonton!

   5 comments

-nauval himself-
April 13, 2005   12:37 AM PDT
 
ok deh Bar! si Rio elo panggil "Mas" ... oke deeehhh ... ! :P

FireWalk
April 12, 2005   11:05 PM PDT
 
Aku juga pada akhirnya gak setuju, Mas! Sebab ketika aku bikin puisi yang buram malah ga bermakna. Hahahaha.
rio
April 12, 2005   11:49 AM PDT
 
first, gue gak pernah setuju kalo puisi itu baru indah kalo absurd dan buram. wong keindahan terlalu subjektif buat dibatasi kok. kalo gue nggak ngerti, gue nggak akan nganggep indah.

gue cuman ngarep rhavi bisa bikin film yang nggak cuman indah secara gambar, tapi juga mampu bercerita.

semoga.
FireWalk
April 10, 2005   06:41 PM PDT
 
Got your point, Nauv. Mungkin di sini yang menjadi perbedaan adalah persepsi kita mengenai puisi. Guru bahasa yang gue ceritain itu, for instance, mengklaim keburaman sebagai puisi.

Pada beberapa point gue setuju bahwa Malick tidak berpuisi lewat bahasa gambar, dan dengan gamblang mengungkapkan pergumulan batin tokoh2 di filmnya. Tapi dasar gue sok dalem..hehehehe...gue merasa bahwa ada yang disiratkan,implicitly, mostly dari gambar dan narasi yang dibawain sama JIm Caviezel. Bahkan dari adegan perangnya, atau waktu tubuhnya Sean Penn dicabik granat. Mungkin gue ada bakat psycho, karena gue biasanya menangkap keindahan dari adegan perang (salah satu alasan kenapa gue suka banget sama film perang), atau misalnya ketika Dr. Lecter menguliti wajah seorang polisi untuk dijadiin samaran.

Dan menjadi puisi buat gue ketika gambar atau apapun punya nilai yang lebih dari yang sebenarnya ditawarkan. Subyektif banget, emang. Tapi hal itulah yang gue rasa bikin kita cinta banget film. Ya nggak?
-nauval himself-
April 10, 2005   02:01 AM PDT
 
you write what you understand best, and that makes an easy read.

cuman sedikit ganjelan, Bar.

secara pribadi, gue ngga ngeliat Terrence Malick berniat untuk 'berpuisi' lewat permainan gambar dari sinematografi bernuansa romantisme yang ditabrak dengan adegan-adegan perang itu di The Thin Red Line.
in fact, Malick sangat gamblang dan cenderung "banal" dalam ngungkapin pergulatan batin karakter-karakter maskulin di pelem ini dengan segala kompleksitas mereka sebagai anak, suami, ayah, kekasih dari orang-orang yang mereka cintai dengan cara membiarkan film ini bercerita lewat bahasa gambar dan narasi seperti yang elo tulis itu, dalam bentuk yang ga ada implisit nya sama sekali, semuanya terumbar dan terungkap dengan jelas di layar.

and my point is, i'm writing this down at 2 am in the morning dan belum nonton the rainmaker, that's why i can't comment on the film, going for Thin Red Line instead, one of the perfect films about war.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments