|
Jadi hari ini gue memulai hari profesional gue dengan sebuah pemandangan yang agak mengganggu. Begitu buka pintu ruangan gue di kantor, sebuah kursi gede warna item, mengkilat karena jok dan sandarannya ketat terbungkus plastik, menyergap seluruh ruang pandang gue. Hee? Kursi siapa itu segede goblok? Kursi yang lama digusur ke samping kursi asing itu agak keluar dari area meja. Ada urusan apa kursi itu nyampe ke meja gue? Tanya ke office boy, katanya kursi itu emang buat Mas Barrie. Tanya ke manager keuangan, barulah terjawab asal dan tujuan kursi itu ngejogrok di ruangan gue. Ternyata mas manager keuangan berbaik hati membelikan gue kursi gede itu, karena gue pernah komplain tentang kursi lama yang kalo dibikin bersandar malah bikin gue seperti mau jatoh saking penampangnya memang dibuat super elastis. Harusnya yang elastis lebih enak, bisa dibuat setengah-setengah tiduran. Tapi berhubung gue menderita darah rendah, kursi model gitu malah bikin kepala gue pusing, perut mual, dan pengen muntah. Rada nyender dikit langsung ngoookk! Pinggul dan punggung suka pegel akibat gue malas bersandar. Oke, baiklah, tapi kursi yang baru ini agak aneh ya bentuk dan rupanya... Ukurannya gede banget dan sandarannya tinggi banget. Pendek kata: kaya kursi Presiden! "Gak apa, Bar... Semua di kantor ini kursinya segede itu kok." Ngok! Kalo elo bos, kursi lo pastinya harus yang lebih nyaman. nggak perlu yang GEDE. Mendingan lo usulin supaya gaji gue yang digedein, bukan kursinya. Mendingan lo usulin pembelian mobil dinas buat gue daripada lo ajuin pembelian kursi gede, item, dan bentuknya aneh itu. Mendingan lo sewain gue polisi pengawal buat mecah jalan supaya macet nggak menghalangi kinerja gue. Kursi aja gede, tapi berangkat kantor masih naik taksi. Si kursi baru yang nggak bersalah itu tetap ngejogrok manis di tempatnya. Gue panggil Office Boy untuk melepas bungkusan plastik yang sepertinya difungsikan untuk melindungi jok dan sandarannya supaya tetep kinclong sampai nyampe ditangan pembeli. "Jangan dicopot dong, Mas... Nanti kan nggak mengkilap lagi." Gue merasa krisis jelang 30 gue masih akan berlangsung lama... |