|
Waktu masih SD, pak guru bilang begini: "Semakin banyak tau, semakin kita merasa bodoh." Pulang sekolah, di halaman Kantor Kelurahan tempat geng gue ngumpul, seorang teman meluncurkan pendapat yang selama beberapa jam tersimpan di otak anak SD-nya yang sedang berkembang: "Makin kita sekolah makin kita bego, dong?" Sadar nggak sadar, pertanyaan logis ini dalam sekejap berubah jadi retorika belaka karena gue dan teman-teman yang lain merasa lebih asik sibuk dengan kirim-kiriman salam sekaligus request lagu ke radio atau telepon-teleponan sama adik kelas perempuan yang cakep gara-gara telepon umum di halaman Kelurahan itu bisa diakalin. Recehan seratus perak yang masuk dengan ajaibnya tembus ke ceruk di bagian bawah box telepon, tapi teleponnya nyambung! Toh kami tetap pergi ke sekolah tiap hari, belajar matematika tiap hari, PMP tiap hari, PSPB tiap hari, Bahasa Indonesia, IPA, dll, dsb. Hasilnya, gue langganan rengking tiga besar, jek! Anak yang dapat rengking pertama sangat unbeatable. Gosipnya sih karena ortunya rajin kirim bingkisan ini itu ke semua guru, dapet les privat untuk tiap mata pelajaran dari semua guru, dapet bocoran soal untuk tiap ulangan dan ujian... Hehehehe...whatever... Paling deket gue bisa nyampe ke anak ini dengan dapat rengking 1,5. Rengking 1,5? Gimana gak nanya kalau di soal ulangan PMP tiba-tiba dikasih soal pilihan ganda dengan pilihan-pilihan paradoks: Seorang teman sekelasmu harus istirahat di rumah karena sakit. Seusai dengan sila ke-dua Pancasila, apa yang sebaiknya kamu lakukan? Tentunya gue cukup cerdik untuk memilih A walaupun di hati ini berkobar pertanyaan-pertanyaan yang gak terjawab oleh buku PMP di manapun. Coba deh pertimbangkan jawaban C dan D. Kalau rumahnya jauh, sementara nyokap gak kasih duit buat ongkos gimana? Sekolah mau nyewa angkot buat nengokin temen yang sakit itu? Nah... panjang lebar cerita di atas sebenernya pengen gue runcingkan untuk sebuah fenomena yang sedang panas-panasnya melanda negeri ini: rencana pemblokiran media-media dari peredaran sebuah film berjudul "Fitna", buatan seorang Belanda. Geli sebenernya membaca berita tentang betapa kalang kabutnya orang-orang di atas sana gara-gara film ini, walaupun sebenernya ikutan kuatir dengan potensi bahaya dari peredaran film ini saking terbiasanya orang Indonesia dengan pola indoktrinasi yang membuat segala sesuatunya jadi sebenar hitam atau putih tanpa perlu dipikir lagi bener atau salahnya. Orang-orang kadung hidup dalam kondisi dogmatis yang bikin pemikiran jadi tumpul lalu jadi sistem kepercayaan yang lumpuh yang berkorelasi dengan satu hal: kebencian ekstrim. Film Fitna, dalam hal ini, lantas jadi sang penekan tombol yang mengaktifkan kellumpuhan pikiran itu. Dan Presiden kita pastinya cukup pintar untuk menjadi cemas dengan potensi berbahaya ini sebab dia sadar betul betapa banyaknya yang merasa tidak perlu mempertanyakan suatu kebenaran (atau suatu kesalahan). Dan kepentingan-kepentingan yang menungganginya. Semakin banyak tau, semakin kita merasa bodoh. |
| Leave a Comment: |