Entry: Ode to Alda Thursday, December 14, 2006



Katanya nih, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah. Kalo boleh gue nebak, pasti yang ngomong turis bule. Kalo ada putra bangsa ini yang bilang bahwa bangsanya adalah bangsa yang ramah dan beradab gue akan bersenang hati menoyor kepalanya bolak balik. Gih nonton infotainment yang menjual mayat Alda yang lebam dan bolong-bolong itu!

Man... miris ngeliat pers infotainment yang buas ngejer rating. Marah rasanya masih ada produser yang nggak mengeksekusi visual model begitu. Gue juga bekerja di industri yang memberhalakan rating sebagai tuhan, tapi... Ada apa dengan ruang editing? Mati lampu? Atau mati nurani?

Atau simply karena elo goblok dan ga punya otak kreatif yang mumpuni??

Kalau gobloknya sendirian nggak apa-apa.. lha ini bikin berjuta penonton Indonesia ikutan tolol? What! 'Kebebasan Pers' my ass!

Mungkin banyak yang nyukurin meninggalnya Alda secara anak kecil ini sudah kadung tertempeli julukan artis nakal. One hit wonder tapi tunggangannya Jaguar. Masih kecil tapi toketnya naujubile gedenya.. Bisa jadi adalah contoh sempurna dari stigma orang banyak tentang artis. Tapi, hey... dengan menampilkan mayat dalam kondisi mengenaskan, bukankah elo jadi orang yang sama bangsatnya?

Di Cina, ada yang berprofesi sebagai orang sewaan untuk menangisi orang yang meninggal. Sampai segitunya mereka menghargai kematian seseorang, sebab apa yang tinggal selain kebaikan untuk dikenang pada saat elo mati, seburuk atau sejahat apapun elo?

Katanya nih, bangsa Indonesia bangsa beragama. Banyak pula, lebih dari satu. Gue bersyukur karena enggak percaya sama satupun di antaranya.

**********

(Lunch break, seorang teman membuka babak lain tentang Alda yang mengenaskan. Katanya, Polisi datang ke acara tahlilan Alda di rumahnya untuk menciduk Ibu Alda yang dituduh melakukan penggelapan surat jual beli mobil. Lebih mengenaskan lagi: puluhan wartawan sedang mengerubuti acara tahlilan itu seperti lalat hijau yang pesta bangkai) 

   1 comments

Kardi
December 15, 2006   04:29 PM PST
 
Kaum pers media kita emang sadiz. Entah selama ini karena terlalu lama dalam "kungkungan", atau orang kita belum ngerti apa itu artinya "Bebas"... kebebasan untuk dijaga privasi orang masing-masing.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments