|
Well..naik angkot used to be an adventure for me, sesuatu yang duluuuuu banget sangat gue antisipasi, kegiatan yang jadi salah satu obyek sirik-sirikan gue ke kakak gue. Nyokap yang buka usaha jahitan, selalu nyuruh kakak gue pergi belanja ke kota untuk dapetin barang-barang macam kancing mas, resleting 50cm, kain furing, kain keras, kain kapas, busa pundak, karet elastis. Sementara gue dapet tugas untuk ngobras di toko Bu Jono yang jaraknya cuma sepelemparan engklek. Gak sampe semenit jalan kaki udah sampai, tapi harus menelan pemandangan indah bentuk mulut Bu Jono yang luar biasa tonggos jadi semakin tonggos karena cemberut. Harus rela mencuci kuping karena Bu Jono ngobras sambil ngomel-ngomel "ngobras terus, duitnya kapan.." Harus ngencengin urat malu karena selesai ngobras bu Jono ngeliatin bon obrasan nyokap gue yang jumlah halamannya udah berlembar-lembar sambil ngomong dengan judesnya: "kalau bajunya dibayar jangan lupa bayar ke sini dong!" Protes gue ke nyokap ditanggapi dengan: "masa sih? Kalau ketemu Mama, Bu Jono baik banget tuh," atau "nggak apa-apa kok...Lagian Bu Jono dapet banyak obrasan dari Mama, duitnya juga banyak dari Mama. Liat aja nanti Lebaran pasti kita dikasih lagi kue sekaleng." Ya.. dan untuk dapetin kue sekaleng itu gue harus merelakan diri gue dijadikan sasaran tembak Bu Jono. The world really can be that cruel to a child... Anyway, akhirnya waktu kelas 3 SD, gue dapet juga giliran untuk pergi belanja ke kota. Yes! Yes! Yes! Gue akan lewat Matahari... Jalan-jalan sebentar di supermarketnya, liat-liat batang-batang coklat yang bungkusnya warna-warni, tumpukan buah-buahan... Ooohh iya! Ding-dong! Street Fighter lagi jadi tren waktu itu, dan gue bisa belajar gimana caranya Chun Li ngeluarin jurus tendangannya yang akrobatik itu! Jurus Tendangan Tanpa Bayangan gue udah bisa, tapi Tendangan Angin Puyuh adalah yang paling mematikan! "Inget ya..catetan belanjanya jangan sampai hilang! Kain contohnya jangan sampai lepas dari kertas catetan Mama. Warna benang, resleting sama kancingnya harus sama. Kalau nggak sama jangan mau. Duitnya kantongin yang bener ya... Mama nggak punya gantinya kalau sampai ilang....bla..bla..bla..." OK. Gampang! Siap! Gue harus naik angkot yang ada tulisan G6-nya. Naik G2 juga bisa tapi akan makan waktu lama untuk sampai karena harus memutar jauh. Berhenti di depan Matahari, pas di bawah papan reklame bioskop. Jangan sampai kelewatan atau gue akan diturunin di seberang dan akan mengalami kesulitan nyebrang karena lalu lintasnya ramai. Teriak 'KIRI' sekencang-kencangnya kalau mau turun, pastikan keneknya denger. OK... Sip! Gue keluar dari gang menuju jalan besar dan menunggu angkot. Tulisannya G6 dan.. itu dia! Melaju dengan gagahnya dari kejauhan ke arah gue.. Ooppsss.. ternyata G3. Tapi...Oohh... itu dia di belakangnya... Yak... angkanya 6. G6!! Gue melambaikan tangan dan... si angkot melewati gue begitu saja... Apa gue yang salah ngasih tanda ya? Tapi tadi gue sudah mengacungkan telunjuk dengan benar kok... Apa harus lima-limanya ya? Kayak orang ber-dadah-dadah? (Later on, gue menciptakan teori untung-rugi, bahwa supir angkot merasa rugi menginjak rem untuk mengangkut seorang anak kecil dan mendapat bayaran 50 rupiah saja, sementara kalau ngangkut orang dewasa bakal dapet dua kalinya.) Setelah berjenis-jenis angkot melewati gue, akhirnya sebuah G6 berhenti di depan gue, dan dengan segera membawa gue ke kota. Di dalamnya penuh, gue mendapat tempat diantara seorang ibu gemuk dan seorang penjual jamu dengan bakulnya. Cuma sedikit dari ujung pantat gue yang dapet tempat duduk, jadi kaki gue harus berusaha lebih untuk menopang posisi duduk gue yang super nanggung. Pastinya, tiap kali supir ngerem atau menarik gas, gue harus membetulkan posisi yang sangat genting itu. Tapi... Oh..oh... kenapa kepala gue pusing? Kenapa tiba-tiba bibir gue berasa dingin? Jangan-jangan... My God! Gue mulai mabuk! Di saat angkot penuh sesak, seluruh lubang pori gue berteriak-teriak minta angin segar! Jendela! Gue butuh jendela! Tapi sialnya posisi gue bukan berada di tempat yang memungkinkan gue untuk dapet hembusan angin dari jendela! Si ibu-ibu gemuk menutupi jendela yang terbuka lebar di belakang punggungnya! Lutut gue bergetar. Perut gue mual semual-mualnya. Keringat mengucur sedingin-dinginnya.. Ngoookkk! Semua penumpang doyong searah dengan gaya sentrifugal yang dihasilkan dari injakan tuas rem. Termasuk isi perut gue.. Jangan sampai gue muntah di dalem taksi! Malu! Rupanya si Mbak Jamu yang turun... Thanks God, akhirnya gue bisa duduk dengan pantas, tapi punggung Ibu Gemuk tetap nggak bergeming dari jendela yang di mata gue terlihat seperti sebuah visi tentang surga. Beberapa kali ngak-ngik-ngok, akhirnya gue sampai dan turun di bawah papan reklame film bioskop. Di pinggir jalan, sebelah kiri gue adalah Matahari Dept. Store, di seberang kanan adalah deretan toko-toko dan trotoar penuh kaki lima. Orang-orang berlalu-lalang. Matahari garang menerangi hari yang penuh kesibukan itu. Gue membungkuk. Muntah sejadi-jadinya. ******** (3 tahun setelah kejadian ini, nyokap gue akhirnya bisa mencicil sebuah mesin obras. 3 tahun dari saat ini, ketika gue terakhir kali berada di Cirebon, toko Bu Jono kelihatan semakin usang. Usaha obrasannya sudah tutup sejak lama, dan sekarang Bu Jono jualan rujak. Waktu gue lewat di depan tokonya, Bu Jono memanggil gue. Sumringah dan seperti kaget melihat gue. 'Barrie gede-gede makin cakep ya! Nggak lupa sama Bu Jono, kan? Ayo sini beli lotek!' Gue mampir. Etalase tokonya nyaris kosong, cuma dihuni oleh beberapa bungkus roti sobek yang nyaris kering di dalam plastiknya. Sementara Bu Jono sibuk dengan ulekannya, gue melongok ke dalam. Mesin obras teronggok di sana. Tidak lagi ditenggeri benang obras warna putih. Tidak lagi dilampiri oleh kain bakal baju. Sambil menunggu lotek jadi, gue dan Bu Jono ngobrol tentang betapa hidup adalah gerak waktu yang tidak terhentikan... Seperti garis senyum yang mengerut lembut di pinggir mulut tonggos Bu Jono.) |
| Kardi December 13, 2006 01:34 PM PST Tadinya gue bingung menebak ini gambar apa yah? Ternyata.... hueeekkkkk...... (mual igh!) | ||
| Leave a Comment: |