Entry: Balada Bis Tuesday, December 05, 2006



Dari kecil gue bersahabat dengan benda yang namanya bis. Sore hari sekitar jam 4-an sampai menjelang magrib nyokap ngajak gue duduk di bangku panjang yang diletakkan di depan rumah yang langsung menghadap ke jalan dengan bis berseliweran satu-satu.

A..kaa..ss.. AKAS!

Daa..mmrr..iii.. DAMRI!

Ff..lorr..res.. FLORES!

Makasih ya bis! Gue bisa membuat guru-guru TK gue tercengang kegirangan sebab hari pertama masuk sekolah gue udah bisa baca papan nama TK gue lengkap sealamat-alamatnya segala. Yang lainnya belajar baca, gue belajar bikin orang-orangan dari malam.

Tapi membaca nama-nama bis berbeda dengan naik bis! Pengalaman naik bis gue yang pertama adalah waktu itu nyokap dan nenek punya ide cemerlang untuk mengentertain gue dan kakak gue: pergi ke kebun binatang. Kami tinggal di sebuah kota kecil dan butuh 4 jam perjalanan untuk sampai ke Surabaya. Pagi-pagi buta sudah hartus berangkat.

Dan ternyata naik bis itu sangat menyengsarakan: gue mabuk berat! Nggak ber-AC, dan baunya... Bis punya bau spesifik, paduan dari bau jok kulit sintetis, bau asap diesel, dan bau residu keringat banyak orang. Bau ini menghantui gue bertahun-tahun setelahnya. Gue muntah sesukses-suksesnya, nggak lagi tertarik untuk berheran-heran karena melihat pohon-pohon di pinggir jalan yang 'kok bisa lari, sih, Ma?'

Gue baru bersahabat lagi dengan kendaraan umum waktu tinggal di Cirebon karena nyokap sering menyuruh gue membeli perlengkapan jahit-menjahit di toko yang jauh dari rumah. Obatnya satu: duduk di bagian jendela atau dekat pintu masuk yang terbuka supaya kena angin!

(bersambung ah! kerja!)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments