There's nothing right or wrong but thinking makes it so. - Shakespeare

Friday, July 18, 2008
Mama Sakit

 

Ketika Ibumu berkata-kata di seberang yang jauh dengan suara lemas, apakah yang kau rasakan?

Mama sakit. Muntah-muntah terus, berak gak berenti-berenti.

Dunia berhenti dari putaran. Dalam perjalanannya, waktu dikutuk jadi batu.

Rasanya sakit.

Perempuan berusia limapuluh lima tahun, lambungnya berkedut-kedut menolak makanan, tenaganya habis oleh maraton lambat rute kamar tidur - kamar mandi.

Saya melihat matanya mengatup, menunjuk pada geligi yang menua, ditutup bibir keunguan yang rapat pada kulit yang riput. Tangannya memeluk guling dengan kuku kuning karena nikotin sejak muda. Punggungnya lengkung oleh pengalaman hidup sekian lama.

Rasanya sakit.

Di dunia saya yang beku, saya memijit-mijit tombol handphone, berharap memijit kakinya yang rebah di tanah. Suaranya kecil, mencicit lemah.

Dokternya baru ada jam enam.

Rasanya sakit.

Maka saya menyakiti Ibu saya dengan omelan-omelan kenapa tidak langsung ke UGD, kenapa letak kasur belum juga dipindah supaya tidak terkena angin AC.

Rasanya sakit.

Ketimbang waktu, lebih baik saya yang membatu. Menjadi buta dan tuli sebab saya tidak ingin merasa. Saya takut merasa. Saya takut menanggung. Saya takut menjadi.

Saya menolak doa, sebab hidup memberikan pada kita apa yang kita butuh. Yang saya mau waktu tidak berpihak. Saya menolak harapan, sebab masa depan menciutkan sisa umur. Yang saya mau Ibu hidup seribu tahun lagi.

Dan saya mati satu tahun lagi.


Posted at 04:04 pm by KupingNaga
What say you? (4)  




Thursday, April 03, 2008
Kursi saya gedeeee....

Jadi hari ini gue memulai hari profesional gue dengan sebuah pemandangan yang agak mengganggu. Begitu buka pintu ruangan gue di kantor, sebuah kursi gede warna item, mengkilat karena jok dan sandarannya ketat terbungkus plastik, menyergap seluruh ruang pandang gue.

Hee? Kursi siapa itu segede goblok?

Kursi yang lama digusur ke samping kursi asing itu agak keluar dari area meja.

Ada urusan apa kursi itu nyampe ke meja gue?

Tanya ke office boy, katanya kursi itu emang buat Mas Barrie. Tanya ke manager keuangan, barulah terjawab asal dan tujuan kursi itu ngejogrok di ruangan gue. Ternyata mas manager keuangan berbaik hati membelikan gue kursi gede itu, karena gue pernah komplain tentang kursi lama yang kalo dibikin bersandar malah bikin gue seperti mau jatoh saking penampangnya memang dibuat super elastis. Harusnya yang elastis lebih enak, bisa dibuat setengah-setengah tiduran. Tapi berhubung gue menderita darah rendah, kursi model gitu malah bikin kepala gue pusing, perut mual, dan pengen muntah. Rada nyender dikit langsung ngoookk! Pinggul dan punggung suka pegel akibat gue malas bersandar.

Oke, baiklah, tapi kursi yang baru ini agak aneh ya bentuk dan rupanya... Ukurannya gede banget dan sandarannya tinggi banget. Pendek kata: kaya kursi Presiden!

"Gak apa, Bar... Semua di kantor ini kursinya segede itu kok."

Ngok!
Kali ini hati gue yang jadi super elastis ngegelosor-gelosor macam minta ditabok.

Kalo elo bos, kursi lo pastinya harus yang lebih nyaman. nggak perlu yang GEDE. Mendingan lo usulin supaya gaji gue yang digedein, bukan kursinya. Mendingan lo usulin pembelian mobil dinas buat gue daripada lo ajuin pembelian kursi gede, item, dan bentuknya aneh itu. Mendingan lo sewain gue polisi pengawal buat mecah jalan  supaya macet nggak menghalangi kinerja gue.

Kursi aja gede, tapi berangkat kantor masih naik taksi.
Kursi aja gede, tapi kadang masih naik busway karena kangen pengen naik busway.
Kursi aja gede, tapi masih liat-liat tagprice dan mencibir kalo harganya nggak kira-kira.
Kursi aja gede, tapi beli baju buat kerja masih juga pergi ke Mangga Dua.
Kursi aja gede, tapi pulsa hape masih juga beli yang prabayar.
Kursi aja gede, kalo makan masih doyan nyariin warteg.

Si kursi baru yang nggak bersalah itu tetap ngejogrok manis di tempatnya. Gue panggil Office Boy untuk melepas bungkusan plastik yang sepertinya difungsikan untuk melindungi jok dan sandarannya supaya tetep kinclong sampai nyampe ditangan pembeli.

"Jangan dicopot dong, Mas... Nanti kan nggak mengkilap lagi."

Gue merasa krisis jelang 30 gue masih akan berlangsung lama...


Posted at 05:14 pm by KupingNaga
What say you? (1)  




Wednesday, April 02, 2008
Dogma Fitna

Waktu masih SD, pak guru bilang begini:

"Semakin banyak tau, semakin kita merasa bodoh."

Pulang sekolah, di halaman Kantor Kelurahan tempat geng gue ngumpul, seorang teman meluncurkan pendapat yang selama beberapa jam tersimpan di otak anak SD-nya yang sedang berkembang: "Makin kita sekolah makin kita bego, dong?" Sadar nggak sadar, pertanyaan logis ini dalam sekejap berubah jadi retorika belaka karena gue dan teman-teman yang lain merasa lebih asik sibuk dengan kirim-kiriman salam sekaligus request lagu ke radio atau telepon-teleponan sama adik kelas perempuan yang cakep gara-gara telepon umum di halaman Kelurahan itu bisa diakalin. Recehan seratus perak yang masuk dengan ajaibnya tembus ke ceruk di bagian bawah box telepon, tapi teleponnya nyambung!

Toh kami tetap pergi ke sekolah tiap hari, belajar matematika tiap hari, PMP tiap hari, PSPB tiap hari, Bahasa Indonesia, IPA, dll, dsb. Hasilnya, gue langganan rengking tiga besar, jek! Anak yang dapat rengking pertama sangat unbeatable. Gosipnya sih karena ortunya rajin kirim bingkisan ini itu ke semua guru, dapet les privat untuk tiap mata pelajaran dari semua guru, dapet bocoran soal untuk tiap ulangan dan ujian... Hehehehe...whatever... Paling deket gue bisa nyampe ke anak ini dengan dapat rengking 1,5.

Rengking 1,5?
Dulu sih berasa bangga sekaligus sirik sama si rengking pertama. Tapi sekarang kalo dipikir-pikir...sistem ranking itu kan gak ada desimalnya kan? Harus bulet kan? Pertama, kedua, ketiga. Gak ada koma-komaan. Gak pake setengah-setengahan apalagi tiga perempatan... Si A dan si B pinternya beda-beda tipis, tapi karena si A lebih cakep, lebih enak diliat, lebih manis senyumnya, kulitnya lebih putih, jadi si B dikasih rengking 1,5 aja deh. Si B suka bandel sih... pas pelajaran PMP suka nanya-nanya hal gak penting tapi bikin muter otak untuk kasih jawaban yang appropriate. Hehehehe...

Gimana gak nanya kalau di soal ulangan PMP tiba-tiba dikasih soal pilihan ganda dengan pilihan-pilihan paradoks:

Seorang teman sekelasmu harus istirahat di rumah karena sakit. Seusai dengan sila ke-dua Pancasila, apa yang sebaiknya kamu lakukan?
a. Bersama teman sekelas menjenguk ke rumahnya
b. Menunggu saja sampai sembuh sendiri
c. Berdoa agar lekas sembuh
d. Menghindar agar tidak ketularan

Tentunya gue cukup cerdik untuk memilih A walaupun di hati ini berkobar pertanyaan-pertanyaan yang gak terjawab oleh buku PMP di manapun.

Coba deh pertimbangkan jawaban C dan D. Kalau rumahnya jauh, sementara nyokap gak kasih duit buat ongkos gimana? Sekolah mau nyewa angkot buat nengokin temen yang sakit itu?
Kalau si temen itu kena cacar air, bukankah kita harus menghindar agar tidak ketularan sambil mendoakannya supaya cepet sembuh? Case in point, jawabannya adalah C sekaligus D bukan?

Nah... panjang lebar cerita di atas sebenernya pengen gue runcingkan untuk sebuah fenomena yang sedang panas-panasnya melanda negeri ini: rencana pemblokiran media-media dari peredaran sebuah film berjudul "Fitna", buatan seorang Belanda.

Geli sebenernya membaca berita tentang betapa kalang kabutnya orang-orang di atas sana gara-gara film ini, walaupun sebenernya ikutan kuatir dengan potensi bahaya dari peredaran film ini saking terbiasanya orang Indonesia dengan pola indoktrinasi yang membuat segala sesuatunya jadi sebenar hitam atau putih tanpa perlu dipikir lagi bener atau salahnya.  Orang-orang kadung hidup dalam kondisi dogmatis yang bikin pemikiran jadi tumpul lalu jadi sistem kepercayaan yang lumpuh yang berkorelasi dengan satu hal: kebencian ekstrim.

Film Fitna, dalam hal ini, lantas jadi sang penekan tombol yang mengaktifkan kellumpuhan pikiran itu. Dan Presiden kita pastinya cukup pintar untuk menjadi cemas dengan potensi berbahaya ini sebab dia sadar betul betapa banyaknya yang merasa tidak perlu mempertanyakan suatu kebenaran (atau suatu kesalahan).

Dan kepentingan-kepentingan yang menungganginya.

Semakin banyak tau, semakin kita merasa bodoh.
Maka bertanyalah.


Posted at 01:15 pm by KupingNaga
What say you?  




Monday, March 31, 2008
Satu tahun lagi

Satu tahun lagi menuju tiga puluh.

Gue mulai berpikir bahwa hari ulang tahun bukan lagi 'just another day'. Dari yang paling remeh, hari ulang tahun bikin gue niat nulis blog untuk berkeluh kesah tentang bertambahnya umur, sampai mikir sedalem-dalemnya tentang pengukuran bagaimana yang paling tepat untuk menilai 29 tahun kehidupan gue di dunia.

Kalau diukur kuantitatif, kok iya dari awal kerja sampe sekarang tabungan gue isinya nol alias gak ada tabungan sama sekali. Hidup masih from paycheck to paycheck. Rumah satu aja belum punya, mau nyicil mobil masih mikir seribu kali tentang gimana ngumpulin DP-nya, pengen bikin bisnis sendiri masih apalagi.. Tiap kali lewat rumahnya Hari Tanoe masih juga ngegerundel dalam hati, gimana caranya ini orang bisa sampe setajir itu.

Mau pake cara kualitatif, malah bikin tambah sakit hati karena malah gak nemu subyek yang tepat untuk dikualitatifkan. Tambah bingung, karena hasilnya malah menyabar-nyabarkan diri sendiri: "suatu saat kamu pasti bisa."

Atau sebenernya nggak boleh ada itung-itungan macem gini, ya? Maybe i'm being too hard to my self. Mungkin gue yang nggak bisa nyantai sama diri gue sendiri. Mungkin di luar sana banyak orang yang ngiri sama apa yang gue dapet, yang gue berikan, yang gue capai, yang gue korbankan...

Mungkin di luar sana orang berpikir bahwa rumput gue lebih hijau dari rumputnya sendiri...

Dan mungkin, setaun lagi pada saat umur 30 itu datang, rumput gue harus sudah jadi padi dan gue harus lebih mikirin gimana caranya menunduk daripada berhitung.


Posted at 05:48 pm by KupingNaga
What say you? (3)  




Monday, December 18, 2006
4NGK4

 

Suatu malam saya dikejutkan oleh sepasang angka.

 

28.

 

Ada kerelaan yang direnggut paksa, sungguhpun begitu dunia sudah kadung gandrung pada hitungan matematika, mengalah pada bilangan sebab konon hidup perlu diukur.

 

Dan waktu adalah si tua

yang terlalu sombong untuk sekedar menoleh.

 

Jadi saya kemudian ikut berhitung, merubah masa lalu, masa kini dan masa depan menjadi berderet angka. Mengkonversikan harapan dan mimpi saya jadi satuan bilangan. Dan celah-celah besar diantaranya saya namai resiko dan keberanian.

 

Lalu saya marah… Sebab ternyata saya betul-betul terbatas, penuh dengan tanggal-tanggal kadaluwarsa yang menandai hari di mana saya menjadi racun dan karenanya harus dijadikan sampah.

 

Tapi saya pernah menjanjikan diri saya untuk sebuah jalan yang dipilih hidup untuk menemukan dirinya sendiri: evolusi. Yang tidak meninggalkan limbahnya sekalipun hati terus melompat. Dan residu-residu tetap tersimpan sebagai penanda, bukan sampah.

 

28

 

Toh tiap detik saya semakin tua.

Namun semoga semakin matang.


Posted at 02:07 pm by KupingNaga
What say you? (5)  




Thursday, December 14, 2006
Ode to Alda

Katanya nih, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah. Kalo boleh gue nebak, pasti yang ngomong turis bule. Kalo ada putra bangsa ini yang bilang bahwa bangsanya adalah bangsa yang ramah dan beradab gue akan bersenang hati menoyor kepalanya bolak balik. Gih nonton infotainment yang menjual mayat Alda yang lebam dan bolong-bolong itu!

Man... miris ngeliat pers infotainment yang buas ngejer rating. Marah rasanya masih ada produser yang nggak mengeksekusi visual model begitu. Gue juga bekerja di industri yang memberhalakan rating sebagai tuhan, tapi... Ada apa dengan ruang editing? Mati lampu? Atau mati nurani?

Atau simply karena elo goblok dan ga punya otak kreatif yang mumpuni??

Kalau gobloknya sendirian nggak apa-apa.. lha ini bikin berjuta penonton Indonesia ikutan tolol? What! 'Kebebasan Pers' my ass!

Mungkin banyak yang nyukurin meninggalnya Alda secara anak kecil ini sudah kadung tertempeli julukan artis nakal. One hit wonder tapi tunggangannya Jaguar. Masih kecil tapi toketnya naujubile gedenya.. Bisa jadi adalah contoh sempurna dari stigma orang banyak tentang artis. Tapi, hey... dengan menampilkan mayat dalam kondisi mengenaskan, bukankah elo jadi orang yang sama bangsatnya?

Di Cina, ada yang berprofesi sebagai orang sewaan untuk menangisi orang yang meninggal. Sampai segitunya mereka menghargai kematian seseorang, sebab apa yang tinggal selain kebaikan untuk dikenang pada saat elo mati, seburuk atau sejahat apapun elo?

Katanya nih, bangsa Indonesia bangsa beragama. Banyak pula, lebih dari satu. Gue bersyukur karena enggak percaya sama satupun di antaranya.

**********

(Lunch break, seorang teman membuka babak lain tentang Alda yang mengenaskan. Katanya, Polisi datang ke acara tahlilan Alda di rumahnya untuk menciduk Ibu Alda yang dituduh melakukan penggelapan surat jual beli mobil. Lebih mengenaskan lagi: puluhan wartawan sedang mengerubuti acara tahlilan itu seperti lalat hijau yang pesta bangkai) 


Posted at 02:46 pm by KupingNaga
What say you? (1)  




Wednesday, December 13, 2006
Telor Ceplok Setengah Mateng

Zzaapp! Tiba-tiba gue dapat tawaran kerjaan yang nggak mungkin gue tolak: 2 kali gaji sekarang!

Ting..ting..ting.. Tang-itung-itang-itung hasilnya adalah: gue ambil kerjaan itu!

Zzaapp! Balik ke dua tahun yang lalu waktu seorang Barrie yang Sarjana Akuntansi datang ke Jakarta dengan naifnya pengen berkarir jadi penulis. Nggak ada portfolio, nggak ada pengalaman di bidang kreatif. Yang tertulis di CV adalah sederetan organisasi SMA, universitas dan gereja yang (pengennya) bisa jadi nilai jual utama. Ijasah S1 Akuntansi dari Universitas Negeri? Sudahlah... Gue sadar bahwa gue ternyata gak suka accounting sejak kuliah semester lima, di hari wisuda gue udah bersumpah gak akan nyusahin diri gue untuk nyemplung lagi di dunia akuntansi, gue bilang sama Nyokap bahwa gue mau jadi penulis!

Zzaapp! Nyampe Jakarta dengan duit 300 ribu perak, dikurangi ongkos kereta. Seminggu dari kedatangan gue, sebuah pekerjaan sudah menunggu: jadi publicist sebuah film indie berkat rekomendasi seorang teman. Pertanyaan gue adalah: Di Jakarta, 245 ribu bisa tahan berapa lama ya? Sebab gaji pertama gue yang cuma-bisa-buat-makan-ga-bisa-buat-pacaran itu baru akan ditransfer sebulan kemudian, tentunya! Makasih buat bos gue yang nyediain makanan di rapat-rapat yang sedemikian sering sehingga gue bisa menjaga endurance sisa duit gue. Makasih buat temen-temen serumah yang dengan suka hati gue tebengin taksinya, traktiran makan siangnya, makan malamnya, semuanya...

Zzaapp! Gue ngelamar di sebuah PH internasional yang waktu kecil dulu suka gue liat logonya diakhir acara-acara kuis, yang produk paling mutakhirnya adalah tontonan wajib gue dan jutaan orang lain di berbagai belahan dunia. Siapa yang nyangka bahwa blog gue ini adalah pembawa berkah itu, saudara-saudara? Si penginterview, orang Singapore yang karena namanya sempet gue sangka adalah seorang Madam tapi ternyata laki-laki, gue sodori print-out tulisan-tulisan terbaik dari blog gue ini, dan ternyata langkah ini terbukti jitu dalam pengambilan keputusannya untuk mempekerjakan gue di perusahaannya!! Hampir dua tahun gue bertahan di perusahaan yang sangat kompetitif ini. Gaji naik...naik..naik..dan naik...

Zzaapp! Kembali ke kekinian. Gue menimbang-nimbang, membolak-balik diri gue, dan menemukan analogi yang kiranya mirip-mirip dengan perjalanan hidup gue: telor ceplok setengah mateng! Orang bilang, telor yang begini yang menyehatkan. Gizinya masih tinggi. Proteinnya masih terjaga.

Terus kapan gue mateng? Pekerjaan ini berbeda sekali dengan apa yang selama ini gue lakukan. Belum mateng di sini, udah pindah ke sana.. Gimana gue mateng? Siapa yang menyerap gizi dari kesetengah-matangan gue?

Tapi juga, kalau gue mateng di sini, tapi hangus oleh penyesalan karena nolak tawaran yang sepanas 2 kali gaji gue sekarang, siapa juga yang mau makan telor gosong?

"Tenang Bar, nggak satupun manusia yang pernah mati dalam keadaan komprehensif," dulu seorang teman pernah berkata..


Posted at 02:47 pm by KupingNaga
What say you?  




Tuesday, December 12, 2006
Balada Bis II

Well..naik angkot used to be an adventure for me, sesuatu yang duluuuuu banget sangat gue antisipasi, kegiatan yang jadi salah satu obyek sirik-sirikan gue ke kakak gue.

Nyokap yang buka usaha jahitan, selalu nyuruh kakak gue pergi belanja ke kota untuk dapetin barang-barang macam kancing mas, resleting 50cm, kain furing, kain keras, kain kapas, busa pundak, karet elastis. Sementara gue dapet tugas untuk ngobras di toko Bu Jono yang jaraknya cuma sepelemparan engklek. Gak sampe semenit jalan kaki udah sampai, tapi harus menelan pemandangan indah bentuk mulut Bu Jono yang luar biasa tonggos jadi semakin tonggos karena cemberut. Harus rela mencuci kuping karena Bu Jono ngobras sambil ngomel-ngomel "ngobras terus, duitnya kapan.." Harus ngencengin urat malu karena selesai ngobras bu Jono ngeliatin bon obrasan nyokap gue yang jumlah halamannya udah berlembar-lembar sambil ngomong dengan  judesnya: "kalau bajunya dibayar jangan lupa bayar ke sini dong!"

Protes gue ke nyokap ditanggapi dengan: "masa sih? Kalau ketemu Mama, Bu Jono baik banget tuh," atau "nggak apa-apa kok...Lagian Bu Jono dapet banyak obrasan dari Mama, duitnya juga banyak dari Mama. Liat aja nanti Lebaran pasti kita dikasih lagi kue sekaleng."

Ya.. dan untuk dapetin kue sekaleng itu gue harus merelakan diri gue dijadikan sasaran tembak Bu Jono. The world really can be that cruel to a child...

Anyway, akhirnya waktu kelas 3 SD, gue dapet juga giliran untuk pergi belanja ke kota. Yes! Yes! Yes! Gue akan lewat Matahari... Jalan-jalan sebentar di supermarketnya, liat-liat batang-batang coklat yang bungkusnya warna-warni, tumpukan buah-buahan... Ooohh iya! Ding-dong! Street Fighter lagi jadi tren waktu itu, dan gue bisa belajar gimana caranya Chun Li ngeluarin jurus tendangannya yang akrobatik itu! Jurus Tendangan Tanpa Bayangan gue udah bisa, tapi Tendangan Angin Puyuh adalah yang paling mematikan!

"Inget ya..catetan belanjanya jangan sampai hilang! Kain contohnya jangan sampai lepas dari kertas catetan Mama. Warna benang, resleting sama kancingnya harus sama. Kalau nggak sama jangan mau. Duitnya kantongin yang bener ya... Mama nggak punya gantinya kalau sampai ilang....bla..bla..bla..."

OK. Gampang! Siap!

Gue harus naik angkot yang ada tulisan G6-nya. Naik G2 juga bisa tapi akan makan waktu lama untuk sampai karena harus memutar jauh. Berhenti di depan Matahari, pas di bawah papan reklame bioskop. Jangan sampai kelewatan atau gue akan diturunin di seberang dan akan mengalami kesulitan nyebrang karena lalu lintasnya ramai. Teriak 'KIRI' sekencang-kencangnya kalau mau turun, pastikan keneknya denger.

OK... Sip! Gue keluar dari gang menuju jalan besar dan menunggu angkot. Tulisannya G6 dan.. itu dia! Melaju dengan gagahnya dari kejauhan ke arah gue.. Ooppsss.. ternyata G3. Tapi...Oohh... itu dia di belakangnya... Yak... angkanya 6. G6!! Gue melambaikan tangan dan... si angkot melewati gue begitu saja... Apa gue yang salah ngasih tanda ya? Tapi tadi gue sudah mengacungkan telunjuk dengan benar kok... Apa harus lima-limanya ya? Kayak orang ber-dadah-dadah?

(Later on, gue menciptakan teori untung-rugi, bahwa supir angkot merasa rugi menginjak rem untuk mengangkut seorang anak kecil dan mendapat bayaran 50 rupiah saja, sementara kalau ngangkut orang dewasa bakal dapet dua kalinya.)

Setelah berjenis-jenis angkot melewati gue, akhirnya sebuah G6 berhenti di depan gue, dan dengan segera membawa gue ke kota. Di dalamnya penuh, gue mendapat tempat diantara seorang ibu gemuk dan seorang penjual jamu dengan bakulnya. Cuma sedikit dari ujung pantat gue yang dapet tempat duduk, jadi kaki gue harus berusaha lebih untuk menopang posisi duduk gue yang super nanggung. Pastinya, tiap kali supir ngerem atau menarik gas, gue harus membetulkan posisi yang sangat genting itu. Tapi...

Oh..oh... kenapa kepala gue pusing? Kenapa tiba-tiba bibir gue berasa dingin? Jangan-jangan... My God! Gue mulai mabuk! Di saat angkot penuh sesak, seluruh lubang pori gue berteriak-teriak minta angin segar! Jendela! Gue butuh jendela! Tapi sialnya posisi gue bukan berada di tempat yang memungkinkan gue untuk dapet hembusan angin dari jendela! Si ibu-ibu gemuk menutupi jendela yang terbuka lebar di belakang punggungnya! Lutut gue bergetar. Perut gue mual semual-mualnya. Keringat mengucur sedingin-dinginnya..

Ngoookkk! Semua penumpang doyong searah dengan gaya sentrifugal yang dihasilkan dari injakan tuas rem. Termasuk isi perut gue.. Jangan sampai gue muntah di dalem taksi! Malu! Rupanya si Mbak Jamu yang turun... Thanks God, akhirnya gue bisa duduk dengan pantas, tapi punggung Ibu Gemuk tetap nggak bergeming dari jendela yang di mata gue terlihat seperti sebuah visi tentang surga.

Beberapa kali ngak-ngik-ngok, akhirnya gue sampai dan turun di bawah papan reklame film bioskop. Di pinggir jalan, sebelah kiri gue adalah Matahari Dept. Store, di seberang kanan adalah deretan toko-toko dan trotoar penuh kaki lima. Orang-orang berlalu-lalang. Matahari garang menerangi hari yang penuh kesibukan itu. Gue membungkuk.

Muntah sejadi-jadinya.

********

(3 tahun setelah kejadian ini, nyokap gue akhirnya bisa mencicil sebuah mesin obras. 3 tahun dari saat ini, ketika gue terakhir kali berada di Cirebon, toko Bu Jono kelihatan semakin usang. Usaha obrasannya sudah tutup sejak lama, dan sekarang Bu Jono jualan rujak. Waktu gue lewat di depan tokonya, Bu Jono memanggil gue. Sumringah dan seperti kaget melihat gue. 'Barrie gede-gede makin cakep ya! Nggak lupa sama Bu Jono, kan? Ayo sini beli lotek!' Gue mampir. Etalase tokonya nyaris kosong, cuma dihuni oleh beberapa bungkus roti sobek yang nyaris kering di dalam plastiknya. Sementara Bu Jono sibuk dengan ulekannya, gue melongok ke dalam. Mesin obras teronggok di sana. Tidak lagi ditenggeri benang obras warna putih. Tidak lagi dilampiri oleh kain bakal baju. Sambil menunggu lotek jadi, gue dan Bu Jono ngobrol tentang betapa hidup adalah gerak waktu yang tidak terhentikan... Seperti garis senyum yang mengerut lembut di pinggir mulut tonggos Bu Jono.)


Posted at 03:30 pm by KupingNaga
What say you? (1)  




Tuesday, December 05, 2006
Balada Bis

Dari kecil gue bersahabat dengan benda yang namanya bis. Sore hari sekitar jam 4-an sampai menjelang magrib nyokap ngajak gue duduk di bangku panjang yang diletakkan di depan rumah yang langsung menghadap ke jalan dengan bis berseliweran satu-satu.

A..kaa..ss.. AKAS!

Daa..mmrr..iii.. DAMRI!

Ff..lorr..res.. FLORES!

Makasih ya bis! Gue bisa membuat guru-guru TK gue tercengang kegirangan sebab hari pertama masuk sekolah gue udah bisa baca papan nama TK gue lengkap sealamat-alamatnya segala. Yang lainnya belajar baca, gue belajar bikin orang-orangan dari malam.

Tapi membaca nama-nama bis berbeda dengan naik bis! Pengalaman naik bis gue yang pertama adalah waktu itu nyokap dan nenek punya ide cemerlang untuk mengentertain gue dan kakak gue: pergi ke kebun binatang. Kami tinggal di sebuah kota kecil dan butuh 4 jam perjalanan untuk sampai ke Surabaya. Pagi-pagi buta sudah hartus berangkat.

Dan ternyata naik bis itu sangat menyengsarakan: gue mabuk berat! Nggak ber-AC, dan baunya... Bis punya bau spesifik, paduan dari bau jok kulit sintetis, bau asap diesel, dan bau residu keringat banyak orang. Bau ini menghantui gue bertahun-tahun setelahnya. Gue muntah sesukses-suksesnya, nggak lagi tertarik untuk berheran-heran karena melihat pohon-pohon di pinggir jalan yang 'kok bisa lari, sih, Ma?'

Gue baru bersahabat lagi dengan kendaraan umum waktu tinggal di Cirebon karena nyokap sering menyuruh gue membeli perlengkapan jahit-menjahit di toko yang jauh dari rumah. Obatnya satu: duduk di bagian jendela atau dekat pintu masuk yang terbuka supaya kena angin!

(bersambung ah! kerja!)


Posted at 09:50 am by KupingNaga
What say you?  




Monday, December 04, 2006
Give mercy on me!

On sms.

He, tampang gue jadi aneh, ya? Jujur!

Gak lah! Lo terlalu exaggerating deh. Jujur, gue suka dengan potongan yang lama, tapi yang ini looks fine kok.

Puhleesee..! Don't do the PR talking! I used to be a PR person!

On messenger.

Have you seen Philadelphia? You know Andrew Beckett, the main character?

Yea.. why?

I look like the ill Andrew Beckett. Of course without the skin cancer.

Impossible! You're handsome! No way, jose!

Oh.. on second thought, i think i look like Forrest Gump! Sing Halleluyah for Tom Hanks got his double Oscars for the roles that made him looks like a total nerd!

May be you should get it all trimmed. How bout that? You'll look like the naked golden statue, if you think that'll be better.

In front of the mirror before went off to office.

Good morning, Gollum!

On the way to office.

Alright... what's the alibi? Salah potong jadi sekalian aja digundulin? Kutuan?

At the office.

Colleague #1

Ssst.. Malih...

(menoleh... membelalakkan mata)

Sssstt... salah potong nih gue!

Anjriiitttt!!

Colleauge #2

Gak apa-apa kok... apanya yang aneh? Bagus kok...

Colleague #3

Aaaarrrrrggghhhhh.....!!!!

Colleague #4

Ih! Kenapa kepala lo? Abis digigit tupai?

Diem lo!

Colleague #5

Coba madep ke kiri...hmm... ke kanan...ooppss...liat belakangnya coba... Aduh... Kenapa dipotong begitu sih? Kamu potong di mana sih, Barrie?

Bos:

Itu...tempat meeting yang enak di mana ya? Aduh... ituuu...aduh... rambutnya jelek banget sih (akhirnya dia ketawa..) Aduh... Ratu Plaza!

********

Jakarta mendung. Lalu hujan deres.

Bakal lama kayak gini...


Posted at 01:11 pm by KupingNaga
What say you?  




Next Page


KupingNaga
Name:
Barrie

Age:
Mid 20's

Religion:
What the..???!! @*#%$ !!!

Sex:
Yes, please

Location:
Either your place or mine

Occupation:
Occupied

Interests:
Omnifreak. I'm interested to anything good

Personality:
Psycoanalize me, i'll freak the hell out of you
   

<< May 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

B E E I S M

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed