There's nothing right or wrong but thinking makes it so. - Shakespeare

Thursday, April 07, 2005
HUjan terjebak

Kebetulan gue punya hidung bangsawan: kasih sedikit debu maka ingus gue akan menggelegak seperti magma yang hendak dimuntahkan dalam peristiwa letusan vulkanik.

Hiperbola banget lu, Bar!

Well, mungkin bawaan idung. Dua jam yang lalu gue minum obat dan celakanya gue ga boleh tidur karena ada beberapa tugas dari nyokap yang harus gue selesaiin. Jadilah gue berasa seperti melayang-layang, mata gue berair, kepala berat, tenggorokkan kering kaya gurun, pucuk hidung yang gatalnya nggak hilang walo sudah digaruk. Tapi tetep juga nekat pergi ke warnet. 10 menit di depan komputer, merasa nggak kuat, trus bayar bill di kasir.

Ternyata di luar hujan!

Just perfect!

Nyokap pengen pindah rumah. Jual rumah di Cirebon, terus pindah ke Cilacap. Denger-denger pantainya bagus. Maklum pantai selatan. Tapi pasti ombaknya gila. Laut sewarna hijau racun, sedalam langit ke bumi. Dulu waktu kecil gue tiap hari berenang di kolam renang, di bagian yang dalemnya 5 meter, atau mungkin lebih. Nggak ada siapa-siapa di situ, paling satu atau dua orang dewasa yang berenang dengan indahnya. GUe selalu ke kolam lima meter sebab tertarik dengan warna biru delapnya. Gue mengapung dekat dinding kolam, menunggu hantu, atau monster, atau arwah orang tenggelam untuk narik kaki gue. GUe menikmati getaran bulu di tengkuk gue yang serta merta menegak karena imajinasi gue.

Ngeri itu indah.

Makanya karakter favorit gue adalah Hannibal Lecter. Bukan Superman, sebab Superman beraksi tidak dengan gaya. Cuman terbang dengan satu lengan mengacung ke atas. GUe lebih suka Penguin daripada Batman, sebab Batman adalah pengecut bertopeng, dan lebih parah dari Superman, Batman bahkan nggak bisa terbang. Gue lebih suka Sumanto daripada Jenderal Soeharto di Janur Kuning. Gue pernah terobsesi sama Dracula sampe kebawa mimpi. Kadang gue yang di kejer-kejer drakula, kadang gue yang jadi drakula. Di bagian yang paling menegangkan gue terbangun lalu buru-buru mencoba untuk tidur lagi sambil berdoa: Tuhan, kembalikan lagi mimpi saya yang tadi.

Mungkin bawaan idung, atau obat flu yang kebanyakan ampethamin.

Mending gue pulang daripada tambah ngaco dan mengumbar kemaluan gue kemana-mana...

Posted at 08:40 pm by KupingNaga
What say you? (2)  




Tuesday, April 05, 2005
Life

Nothing's priceless.
You have to pay every single orgasm with either your tears, your disappointment, or anything sucks.

In china they spell  it Yin and Yang.

Fundamentalists call  it balancing.

I name it bitch.

Send the bill later, bitch. I'm enjoying my orgasm now.

Posted at 10:29 am by KupingNaga
What say you? (3)  




Wednesday, March 30, 2005
...

26


and the countdown begins

deg....

deg...

deg..

deg.

.

Posted at 12:29 pm by KupingNaga
What say you? (5)  




Monday, March 28, 2005
Reuni

Beberapa teman, yang gue pikir cukup narsis, bilang bahwa reuni adalah acara yang paling dihindari.

Dua hari yang lalu gue datang ke acara reuni SMU gue, yang udah gue antisipasi 2 bulan sebelumnya. I was so excited about the event. Terdorong oleh bakat narsis, gue merasa ingin memperlihatkan 'diri' gue ke teman-teman SMU yang ga pernah gue temui selama bertahun-tahun.

Kemudian tibalah hari H, gue datang dengan pakaian yang menurut gue sederhana tapi elegan dan tentu saja,atas petunjuk dari manual narsis, harus berbeda dari yang lain : hem putih lengan panjang yang digulung dan blue jeans. GUe mempersiapkan alasan jika ternyata outfit gue tidak memenuhi standar: back to school.

Seperti dalam slow motion, gue berjalan tegap, dagu sedikit terangkat, mata lurus kedepan. Gue mengatur senyuman gue agar tidak terlalu lebar, supaya tidak terkesan over excited.

Dari kejauhan beberapa orang melihat ke arah gue, tertegun sebentar, lalu bibir-bibir mereka membentuk kata 'baaaa - rrrriiiii', dengan mata yang melebar.

Gila! Kok lu jadi ganteng sih!!

Barrie! Kacamatanya mana? Ya ampun kamu beda bangeeeettttt!!!!

Hayooo..gue siapa coba? Pasti lupa deh..

Lu tambah kuning aja, Bar...Keren, man!

Kacamata lo mana? Jangan dipake lagi, ya! Tampang lo lebih lucu ga pake kacamata!

Ya ampun, Barrie!! Lu beda banget! Makin cakep aja!

Barrie, kesini dong ngobrolnya...

Enggak, Bar! Beneran kamu beda banget. Sekarang kaya Marcellino Lendfrandt! Beneran!

Terpujilah Dewa Narsis Yang Agung!
Dengan alasan mau keliling nemuin teman-teman yang lain, gue menyudahi satu demi satu acara kagum-kaguman itu. The less you see me, the more you adore me. Gila kan gue! Maka berkelilinglah gue untuk mengumpulkan kekaguman-kekaguman yang lain.

Acara berlanjut, band2 anak SMU dengan lagu hip metal yang semakin dirusak oleh sound system yang sudah terlalu aus karena mungkin kebanyakan dipakai oleh acara-acara orkes dangdut. Vokalisnya putus asa karena suaranya nggak keluar dari speaker. Acara diselingi pembagian doorprize, dengan hadiah macam voucher les bahasa inggris, voucher menginap di salah satu hotel di Cirebon.. Berikutnya adalah penampilan grup teater yang membawakan operet tentang gue-ga-jelas-tapi-kayanya sih-lucu-lucuan-gitu-deh.

This is so high school, gue bilang ke seorang teman di sebelah gue.

Kemudian band metal lagi. Satu-satu peserta reuni mulai berpamitan pulang.

Kuping gue sakit.
Pengagum-pengagum gue sibuk dengan geng nya masing-masing.

Kepala gue sakit.
Sudah 2 jam lebih gue duduk sebelah-menyebelah dengan seorang teman tanpa bicara, terus mencoba menikmati ledakan-ledakan suara yang dihasilkan oleh speaker tua.

Hati gue mulai sakit.
Sebab tiba-tiba gue merasa kesepian.

Akhirnya gue menyerah dan kembali menyadari bahwa masa SMU bukan milik gue.

Gue pulang dengan kepulan aura dukacita menggembung diatas ubun-ubun.

Posted at 09:17 am by KupingNaga
What say you? (2)  




Thursday, March 17, 2005
Beyond All

Sejak kecil gue belajar di sekolah negeri, yang tentu saja memberi pelajaran agama Islam. Karenanya gue fasih mengeja huruf-huruf macam alif-ba-ta'-tsa, dan dari buku Juz' Amma gue menghafal surat-surat macam Al-Fatihah, An-Naas, dan lain-lain, dan maju melafalkannya di depan guru untuk mendapat nilai. Bersama teman-teman yang lain gue mengeja keras-keras kalimat Syahadat dan guru kami menceritakan apa arti dan konsekuensinya.

Di rumah, nyokap dan nenek gue mengajari gue doa-doa macam Bapa Kami dan Salam Maria sebagai doa wajib hafal. Tiap minggu gue bersama kakak dan sepupu-sepupu gue berangkat ke sekolah minggu, menyanyikan lagu Burung Pipit atau Dalam Nama Yesus, Aku Anak Tuhan, dan lain-lain. Suatu hari menjelang paskah guru sekolah minggu mengadakan lomba kreasi untuk merayakan paskah. Kami dibebaskan berkarya selama karya kami menyangkut Paskah. Gue memutuskan untuk membuat puisi. Gue menang, dan membacakan karya gue dengan gemetar didepan anak-anak lain.

Menginjak kelas 6 SD, gue mulai sadar bahwa di depan gue adalah persimpangan. Untuk Ebta praktek semua murid kelas 6 harus memperagakan shalat. Setengah mati gue mempelajari shalat, tapi ga pernah hafal. Setiap hari, pada waktu-waktunya gue berwudhu dengan panduan wudhu nangkring di atas keran. Segala bacaan shalat gue tempel di dinding kamar. Herannya gue ga pernah hafal. Lantas gue lapor ke nyokap, yang membukakan pintu persimpangan itu ke hadapan gue.

Mama ga akan maksa kamu untuk memeluk agama apapun. Kamu harus memilih. Kalau kamu memilih untuk masuk Islam, Mama akan panggilkan guru ngaji buat kamu. Tapi kamu harus yakin, jangan plin-plan soal agama.

Gue tidak segera memutuskan, dan gue terus mempelajari gerakan-gerakan dan bacaan shalat. Sementara tiap minggu gue tetap pergi ke sekolah minggu.

Pada saat Ebta ujian tulis berlangsung gue mengerjakan soal agama Islam. Selesai mengerjakan, gue diberitahu untuk menghadap kepala sekolah. Di kantor Kepala Sekolah gue diberi soal agama Katolik dan diberi waktu untuk menyelesaikannya.

Beberapa hari menjelang Ebta Praktek, kembali gue dipanggil oleh Kepala Sekolah. Kembali gue dihadapkan pada persimpangan: gue disuruh memilih nilai ujian mana yang gue inginkan untuk dijadikan nilai rapot. 9 untuk ujian agama Islam, 7 untuk ujian agama Katolik.

Gue bilang gue ga bisa shalat.

GUe berhenti sekolah minggu.

Dua tahun kemudian nyokap gue menjadi muslim, dengan alasan untuk membimbing adek-adek gue yang sudah diamanatkan agar menjadi muslim.

Sesekali gue ke gereja. Memohonkan ampun buat nyokap gue.

Awal-awal masa kuliah, gue memutuskan untuk tidak lagi pergi ke gereja.

5 tahun berlalu, seorang adek kelas ngajakin gue gabung di paduan suara untuk lomba. Gue jatuh cinta dengan lagu-lagunya, semenjak itu gue kembali ke gereja.

Ketika orang bertanya apa agama gue, maka gue akan menjawab Katolik.

Tapi cuman buat identitas aja, Mas/Mbak. Orang Indonesia harus punya agama di KTP nya. I'm not a religious person, but i'm a believer. I believe in beauty, that's why i sing in the church, if i could sing arabian, i might sing them as well. I believe in God, but not your God, nor their God. I believe in God that exists in my heart. Therefore my God is the only God. My mind is the only church, or mosque, or temple, or sinagoga, or whatever it is.

Kebanyakan orang lantas mengangkat dahi dan pergi dengan rasa prihatin yang tidak perlu.

Posted at 02:41 pm by KupingNaga
What say you? (6)  




Sunday, March 13, 2005
Benalu

Sang bangau kelelahan.
Pada paruhnya sebuah bungkusan, memberati terbangnya.
Lalu pada sebuah pohon melipat sayapnya.
Bungkusan digantung pada ranting.

Lalu hujan turun.
Bumi yang basah harumnya mengawang.
Bangau terlena pada kabut dupa tanah.
Mengeluh pada anak yang terbungkus.

Anak,
rambatlah pada rimbun daun.
Pada batang bergetah puaskan laparmu.
Kupunya hanya jiwaku,
yang kalah pada waktu
dan terbangku semakin rendah.

Mantra mengalun memanjati nada ribuan tahun.
Akar menyerabut, tunas meliuk pada lingkaran ranting.
Tidak mampu meninggi.

Pada bungkusan yang terbuka jiwa bangau memilih mati.

Pada bangau yang mati, mata daun tertawa.

Riang aman kenyang.

Menghisap.

Satu daun jatuh meniti tarian angin.
Pohon menghibur diri, sebab bukankah cinta adalah penghiburan?

Kujadikan diriku ibu,
anak.
Jadikan getahku serupa susu.
Hiduplah pada segala maumu.

Satu daun jatuh menyusuri lekukan angin.
Pohon menghibur diri, sebab memberi adalah kasih.

Kujadikan dirimu anak,
anak.
Jadikan dahanku serupa raga.
Hiduplah pada semua rasamu.

Seratus daun jatuh melintir tarian marah angin.
Pohon menghibur diri, sebab setiap kejatuhan karena cinta dan kasih.

Dan akar yang mengering adalah kehidupan yang berjalan maju.
Dan tanah yang retak adalah bumi yang menua.
Dan hujan yang pergi adalah jarak berjuta tahun.
Dan ketidaktahuan adalah kebaikan.
Dan cinta adalah makanan jiwa.

Walau tidak menghidupkan.

Sang Bangau lelap pada tidurnya.
Pohon lena pada pasrahnya.

Angin marah pada hembusnya.
Tanah retak pada resahnya.
Hujan pergi pada kembalinya.

Adakah hendak dunia pada matinya?

Posted at 02:43 pm by KupingNaga
What say you? (2)  




Saturday, March 05, 2005
Beauty Seeker

GUe udah lama lupa gimana rasanya pagi yang indah, rasanya sinar matahari membelai wajah, kicauan burung yang membentuk harmoni sebuah orkestra.

Sampai pagi ini, keindahan itu datang lagi.

Keajaiban dari keindahan adalah kita tidak perlu mengingatnya untuk mengenalnya lagi. Keindahan bukan state of mind, ia sepenuhnya mandiri. Karenanya keindahan bukan milik siapa-siapa, bebas datang dan pergi, bebas memilih pada hati yang mana dia akan singgah.

Pagi ini hati gue jadi tempat singgah (anak jalanan kali pake tempat singgah..).
Udara sisa hujan semalam manjain paru-paru gue, nahan gue untuk nyalain rokok kaya biasanya. Dan kalau pada mikir bahwa gue lagi sok romantis, well...you better believe me this time that the sounds of birds was really beautiful to my ears..

Let me...Let me own the beauty for a moment.
Just for a moment.
Just for a moment.

Lalu gue lepasin keindahan pagi ini sebelum dia pergi sendiri.

Dan bikin keindahan versi gue: pergi ke pasar.
Belanja...bingung juga sih mau belanja apaan, pasar deket rumah ga terlalu lengkap. Tapi lumayan lah buat nyiptain keindahan gue sendiri: tumpukan bawang merah yang menggunung, sayur mayur hijau, lenjeran kacang panjang, merah nyala cabai merah, bau amis (tapi segar) ikan laut, udang, cumi yang bentuknya eksotis. Padatnya orang-orang di jalan sempit antar kios bikin sebel juga, kadang, tapi suaara-suara tawar menawar antara yang mau beli dan yang menjual adalah hiburan yang menyenangkan. Kadang gue belajar juga caranya menawar: Ambil setengah dari harga yang ditawarkan penjual sampai ketemu harga tengah. Ada penjual yang judes, ga peduli sama segala macem tawar menawar, pokonya harga dia udah mati segitu. Tapi biasanya penjual yang kaya gini sedikit, dan bagusnya penjual yang judes ga mau ditawar selalu menjual barang bagus secara kualitas, baik rasa maupun kesegaran.

Adakah keindahan kenal pada masa
Sebab kuingin rasa ini terus ada

Tapi waktu terlalu sombong untuk sekedar menoleh.

Posted at 09:36 am by KupingNaga
What say you? (1)  




Wednesday, March 02, 2005
La..la..la...

Cirebon lagi...cirebon lagiiiiii.....


Berasa ada yang memanggil-manggil.

Ato barangkali cuma hati kepincut.

Ato malah ketakutan.


Posted at 10:48 pm by KupingNaga
What say you?  




Tuesday, March 01, 2005
Tragedi Bintaro

Bintaro, jam 4 sore. Si Tante pulang bawa barang dagangannya: celana dalem, minyak kayu putih, madu asli australia, buah buat obat panas dalem, dll.

Gimana? Diterima?

Saya ga di telp tuh, Tan. Kayanya enggak deh, pasti yang dicari yang udah pengalaman. Barang dagangan nih, Tan?

IYa..tante jual-jualin di sekolahnya Cindy.

Bintaro, jam 4 lewat 10 menit. GUe pura-pura merhatiin barang-barang dagangan Tante.

Kamu, Bar, berdiri aja di pinggir jalan jualan hape udah bisa hidup. Di Jakarta kalo nggak bisa gesit susah!

Gue senyum.

Tuh si Cindy aja udah pinter cari duit. Jualan prakarya ke temen-temennya. Udah ngumpul 165 ribu!

Hebat dong Tante..

Hati gue kecut dibandingin sama anak kelas 5 SD.

BIntaro, jam 4.25. Om gue masuk rumah, menepuk pundak gue.

Udah kamu jadi pelatih anjing aja.

Hahahaha...garing bener ketawa gue.

Iya lho, Bar..500 ribu bayarannya. Kamu bisa nyambi ngelesin anak SD SMP. Sejamnya 50rb satu orang. Seminggu udah berapa coba?

Gue pura-pura sibuk bukain bungkusan celana dalem. Sesekali cengar-cengir.

Kamu udah telp, Bar?

Udah, Om. Tapi orangnya nggak ada tuh. Palingan juga lagi meeting. Kalo saya diterima pasti di telpon kok Om. Kalo nggak di telpon ya berarti nggak diterima.

Ga usah nanya please....please...

Cindy udah punya duit 20rb yang baru? INi Papa punya. Kamu mau? Ma, amplopnya Cindy mana? SIni aku tukerin.

Tante gue ngeluarin amplop berisi duit, lalu di acungin ke arah gue. Tersenyum dia. Bangga.

Nih..Bar..pinter si Cindy...udah ngumpul 165 ribu..

Saya ke atas dulu Om..

Tante gue masih sibuk ngebenahin barang dagangannya. Cindy mengamati pecahan 20 ribuan baru.

Gue mandi.
Packing.
Pamitan balik ke Jakarta.

...

Posted at 07:30 pm by KupingNaga
What say you? (1)  




Monday, February 28, 2005
Jakarta-Bintaro

Udah dua kali gue menunda kepulangan gue. Yang pertama karena ada unexpected call yang ngasih tau bahwa hari ini (senin) gue dipanggil untuk wawancara di Bintaro. Yang kedua karena hasil wawancara di Bintaro itu akan dikasih tau besok. Pertimbangan gue ga pulang dulu adalah supaya ngirit ongkos bolak balik Cirebon-Jakarta, disamping juga menghemat waktu dan tenaga.

Jadi, kemaren gue pergi ke rumah om gue yang di Bintaro. Gue minta tolong kakak gue untuk nganter dan akhirnya, setelah hampir 4 jam gue nyampe dengan pantat yang menipis, dan badan linu-linu nggak karuan. Kakak gue juga baru di Jakarta, kita muterrin Kebayoran lama ampe 3 kali....

Wawancaranya ok. Maksudnya, gue ngelewatinnya dengan penuh percaya diri, tangkas menjawab setiap pertanyaan. Tapi sebentar banget....Apa gara-gara gue bilang bahwa owner nya adalah Om gue? Oh please....Gue ga mau diukur pake hubungan keluarga. Bahkan gue ga pernah ketemu sama om gue ini. Tapi tetep ngarep juga sih..ini batu loncatan yang cukup bagus, rasanya.

Sehabis wawancara gue ke Jakarta. Naik angkot sekali, sambung metromini yang lebih menyerupai vibrator raksasa dari pada alat transportasi (jadi inget waktu Samantha ngotot mau nukerin vibratornya yg rusak, padahal sebenernya alat buat mijet punggung). Lepas dari metromini, sambung lagi busway, dan turun di Sarinah.

Well...udah lumayan fasih lah gue tentang transportasi di Jakarta. Paling enggak jurusan BIntaro-Jakarta. Dan ternyata lebih nyantai dari pada naek motor sama kakak gue. Tapi makasih lah..naek motor kemaren agak-agak advonturous juga..

Posted at 01:45 pm by KupingNaga
What say you?  




Previous Page Next Page


KupingNaga
Name:
Barrie

Age:
Mid 20's

Religion:
What the..???!! @*#%$ !!!

Sex:
Yes, please

Location:
Either your place or mine

Occupation:
Occupied

Interests:
Omnifreak. I'm interested to anything good

Personality:
Psycoanalize me, i'll freak the hell out of you
   

<< July 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

B E E I S M

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed