There's nothing right or wrong but thinking makes it so. - Shakespeare

Wednesday, July 19, 2006
Kaktus Bunting

Ibarat taneman, blog gue nyaris seperti kaktus. Bukan maksud mau bikin joke garing semriwing, tapi gue pernah punya pengalaman dengan kaktus yang nyaris sama nasibnya dengan blog gue: ditinggal.

Jadi, dulu gue pernah membeli sebuah kaktus mini dari sebuah mal di Surabaya. Yang gue pikirin waktu itu:

  1. Kamar kos gue yang damai tapi gersang, kayanya sebuah kaktus mungil nan lucu dengan kepala merah berduri bisa bikin kamar gue terasa gersang tapi berkaktus.
  2. Gue butuh sesuatu buat dipiara. Kala itu orang-orang ramai dengan piaraan elektronik bermerek Tamagochi, secara gue adalah seoang anti mainstream maka kaktus adalah komplementer yang baik untuk ngeles dari tuduhan peniruan.
  3. Kaktus kan tanaman gurun, jadi ga ribet harus nyiramin tiap hari. Kalopun harus nyiram, penjualnya bilang si kaktus lucu ini cuma butuh satu sendok teh setiap harinya.

Maka, pulanglah bersama gue si kaktus. Di sepanjang jalan gue berpikir keras nyari nama yang tepat buatnya.

Dan jadilah kesayangan gue itu tersirami setiap harinya dengan satu sendok teh air pegunungan alias Aqua. Makin lama-makin gede dan makin lama gue makin sayang. Sepentul puting merah muncul dari kehijauan batang si kaktus: bakal kepala merah yang baru! Aih! Makin jadilah cinta gue, serasa jadi calon bapak muda! Emaknya gue manja dengan dosis air pegunungan yang makin royal.

Dan tibalah liburan semester! Packing..packing..packing... Kaktus cantik udah gue siapin, dan berangkatlah gue pulang.. Seminggu, dua minggu, tiga minggu... Smeinggu lagi gue udah harus balik Surabaya. Tiba-tiba gue inget sesuatu...

..............SI KAKTUS DI MANA???................

Seminggu berlalu, gue sampai di depan pintu kos. Lunglai kehilangan si kaktus yang semoga kebawa sama pecinta tetumbuhan yang satu kereta sama gue waktu itu.

Bahkan gue belum melihat sepentul puting merah itu membesar...

Kamar gue berasa kering kerontang. Kembali gersang, kali ini tanpa damai sebab hati gue rusuh diombang-ambing nasib si Kaktus.

Bahkan gue belum sempet nemu nama buat dia...

Mak gedabruk gue jatuhkan punggung ke kasur busa kos-kosan, dan pada saat yang sama mata gue tertumbuk pada sesuatu di antara bantal dan tembok kamar.

Pot kecil tempat si Kaktus menjejakkan akarnya.

Selanjutnya adalah hal yang sama seperti ketika Clarice Starling mengautopsi mayat korban pembunuhan Buffalo Bill: batang mengering dan keriput dari sebuah kaktus mati. Warna kulitnya nggak lagi hijau tapi kuning kecoklatan seperti kulit tahu kepanasan kena minyak goreng.. Kepala merah itu menghitam, sepentul puting merah tinggal setitik nila di kerutan kuning mengering.

Enuf with the graphics..Gue sakit hati!

Ternyata blog gue lebih tangguh dari si Kaktus tak bernama itu! Masih setia menunggu pemikiran cemerlang, kisah-kisah menakjubkan, hingga keluhan-keluhan depresif gue yang sudah lama kehilangan kemewahan untuk menikmati bakat autis gue.

No pay no game, kata Paman Gober. Blog gue ga akan kisut kering di tengah carut marut dunia perblog-an!

Halah!

 


Posted at 02:46 pm by KupingNaga
What say you? (4)  




Friday, December 23, 2005
Hopephobia

Kadang gue ngeri sama harapan gue.

Apalagi ketika kayanya gampang banget untuk ngeraihnya, sebab gue jadi paranoid. Coz it's never been this easy.

 


Posted at 01:57 am by KupingNaga
What say you? (1)  




Sunday, September 11, 2005
Semut

Tadi waktu berak pagi, di dinding kamar mandi ada semut pindah kampung. Kecil, hitam, berkeremut membentuk garis panjang dari sarang lama yang ditinggalkan ke sarang baru. Beberapa kerepotan membawa telur, yang lain nampak riang ria menyalip. Satu dua semut terjatuh ketika gue memerciki mereka dengan air, beberapa saat iringan gotong royong itu bubar serabutan, lalu kembali lagi pada garis semula.

 

Konon semut itu buta, mereka diarahkan oleh bau dari cairan yang mereka keluarkan sepanjang jalur perjalanannya. Itu sebabnya, waktu kecil kita menyangka bahwa semut gemar bersalaman.


 

Lantas muncul dari lubang sarang lama seekor semut yang badannya dua tiga kali lebih besar dari semut-semut riang tadi. Jalannya lambat, terseok-seok melawan gravitasi yang menggantungi berat badannya. Kembali semut-semut kecil serabutan, kali ini mengitari si gemuk. Satu semut maju dan menempelkan sungutnya pada perut si besar, lalu serta merta mundur. Satu lagi menyundul pantatnya lantas berputar dan tunggang langgang mendahului si besar. Demikian satu-satu semut itu menempelkan kepalanya ke si besar lalu pergi, namun tetap melingkari semut besar hingga sampai ke sarang yang baru.

 

Semut.

 

Naluri.

 

Sistem.

 

Selalu gue berkata ke teman-teman gue bahwa gue adalah seorang pasif-agresif, itu sebabnya gue terlihat sombong pada kesan-kesan awal. Gue mengistilahkan kelakuan itu sebagai defense-mechanism, bukan disebabkan oleh kesombongan yang murni. Ego gue adalah si besar yang terseok karena menahan berat badannya agar tidak jatuh, dan ‘kesombongan’ gue adalah semut-semut kecil yang serabutan memberi semangat agar gue  terus maju, masuk ke sarang yang baru.

 

Atau ketika teman-teman gue sebal karena celetukan2 gue yang memuji diri sendiri, narsisme yang kelewatan. Sebuah system pertahanan diri yang gue ciptakan justru karena gue sadar betul akan keterbatasan gue. Itu sebabnya gue selalu tertawa setelah meberikan statement narsis gue. Menawarkan perasaan bersalah karena menyanjung diri sendiri. Menertawakan diri gue sebab gue tidak pernah mencapai ketinggian yang gue koar-koarkan.

 

Satu lagi semut besar muncul. Sama, terseok lalu dikerubungi oleh semut-semut mungil nan manis dan rajin. Baik hati serta penolong. Satu menempel, lalu mundur. Satu lagi, lalu yang lain. Prosedur yang sama. Sistem yang sama.

 

Masih jauh dari sarang yang baru, tiba-tiba si besar kali ini terjatuh. Di lantai berputar-putar panik, lalu berjalan gak berarah menjauhi dinding tempat semut berarak.

 

Semut.

 

Naluri yang salah.

 

Sistem yang gagal.

 

Di dinding, kembali semut-semut merapikan barisan.

 

Gue beranjak. Si besar tergiring derasnya air yang tumpah dari gayung ketika gue sedang cebok. Masuk selokan.


Posted at 06:44 pm by KupingNaga
What say you? (3)  




Sunday, July 10, 2005
Kasian amat lo!

Gue ngeri ngeliat mata lo.
Semua berkelebat kaya kilat.
Dan lo kebingungan.
Dan lo ga tau.
Dan lo ga sadar.

Gue ngeri ngeliat hati lo.
Yang makin lama makin jadi penjara
Dan orang di dalamnya makin lama semakin menyusut.

Lo akan hilang, man..
Lo akan hilang.
Gak ada bekas.
Tinggal kubangan bekas dihajar kepala nuklir.
Gelombangnya mengikuti kemanapun lo lari.
Menerjang lo dengan kebuasan yang mematikan.

Siapa bilang lo milih?
Enggak..lo ga pernah memilih.
Lo ga dikasih pilihan.
Seperti nasib buruk yang dijadikan nasib.
Sialnya belum juga akan berhenti.

Sekali gue bertanya.
Sampai kapan lo akan lari?
Dan kemana lo akan kembali?
Setelah semuanya selesai?
Setelah es membekukan neraka hidup lo?

Sebab lo mulai hilang..
Begitu juga tempat pijakan lo..

Semoga lo jadi hantu yang bahagia.



Posted at 10:37 pm by KupingNaga
What say you? (2)  




Tuesday, July 05, 2005
Away

Suatu hari hati gue pergi berkelana
Menjanjikan padang luas dengan rumput emas
Dan bunga-bunga putih kecil disela semak halus
Orang-orang membungkuk diladang, menyemai dan menyiram
Lalu melambai dan tertawa pada bangau yang riuh gembira

Tapi adakah tempat bagi pengelana
kecuali keseluruhan perjalanan yang tidak berujung?

Kita tidak akan mati dengan kesadaran yang komprehensif, nak
Maka nikmatilah dunia seperti seorang pembeli di sebuah pasar bernama hidup
Berjanjilah lalu ingkarlah jika kau tidak bisa menepatinya
Hiduplah seperti itu, sebab kenaifan hanya milik surga
Kesederhanaan dibawa terbang pada sayap-sayap yang meninggi


Suatu hari hati gue pergi berkelana
menjadi milik seluruh perjalanannya
Mewariskan seluruh janjinya
Pada jiwa yang menunggu
.


Posted at 02:41 pm by KupingNaga
What say you? (3)  




Tuesday, June 28, 2005
ACHTUNG!

                         IMPIAN KEMARAU (THE RAINMAKER)
                                          PRESS RELEASE

Impian Kemarau (The Rainmaker) karya Sutradara Ravi Bharwani berhasil memenangkan penghargaan Best Film untuk kategori Asian New Talent Award di ajang The 8th Shanghai International Film Festival yang berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juni 2005. Impian Kemarau menyisihkan sembilan film dari negara-negara Asia lainnya, termasuk film unggulan The Story Undone karya sutradara Iran, Hassan Yektapanah. Dewan juri yang terdiri dari Jia Zhangke, Adoor Gopalakrishnan, Joan Chen, Emanuel Levy, dan Lee Myung-Se memilih Impian Kemarau sebagai film terbaik karena berhasil memadukan kehalusan tradisi Asia dengan semangat eksperimental. Piala penghargaan diserahkan langsung kepada Ravi Bharwani oleh Joan Chen dan aktor Holywood, Brendan Fraser. “Setelah bertahun-tahun, akhirnya ada film Indonesia yang meraih penghargaan di ajang festival film internasional,” komentar John Badalu, yang turut menyertai Ravi Bharwani ke Shanghai. Ravi Bharwani sendiri tidak menyangka bahwa filmnya akan menjadi pemenang. “Saya pikir mereka salah ketika mengumumkan nama pemenangnya. Saya tidak pernah mengira akan datang dan menang. Dari awal saya sudah tahu bahwa ini film yang sulit. Film ini mendapat reaksi ekstrim dari penonton: suka atau tidak suka sama sekali.” Awalnya Ravi Bharwani tidak berencana untuk datang ke Shanghai, namun dengan dukungan dari KADIN di Shanghai dan Garuda Indonesia, akhirnya ia berkesempatan untuk menghadiri festival tersebut.

Impian Kemarau adalah sebuah kisah mengenai 3 manusia, dengan tujuan hiidup masing-masing ,
yang  berinteraksi di sebuah desa yang tandus dan kering.Johan, seorang  meteorolog yang sedang berusaha membuat hujan buatan agar bisa membasahi daerah yang tandus itu. Asih, penyanyi sinden yang suaranya telah menjadi oase bagi Johan. Pembantu Asih yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih kepada sang sinden. Bertolak belakang dari pendekatan Johan akan hidup, sang pembantu lebih sebagai pengamat, menerima dan menjalani hidup tanpa bertanya ataupun berharap. Impian Kemarau adalah sebuah film "mood" dan atmosfir yang membebaskan penontonnya untuk menikmati pengalaman akan ilusi yang ditawarkan oleh film. Untuk “merasa” dan bukan sekedar “melihat”. Mood dan atmosfir ini dihantarkan melalui visual-visual puitis namun kuat oleh sinematografer handal Yudi Datau dan penataan artistik yang digarap Manfo Tantono.

Ide cerita, menurut co-producer M. Abduh Aziz, muncul pada tahun 1998 pada saat terjadi perubahan mendasar di Indonesia. Pada fase itu muncul harapan-harapan akan adanya keadaan yang lebih baik, namun pada kenyataannya harapan-harapan itu kemudian menjadi terlalu besar dari yang bisa diberikan. Ide ini kemudian dikembangkan ke dalam skenario oleh Armantono, M. Abduh Aziz, dan Ravi Bharwani sendiri. Produksi ditangani oleh Ravi Bharwani bersama-sama dengan Salto Films dan Cinemasphere. Aktor-aktor yang terlibat dalam produksi ini antara lain adalah Levie Hardigan, Clara Shinta, dan Ria Irawan.

Impian Kemarau yang merupakan karya pertama dari Ravi Bharwani  menghabiskan waktu 5 tahun untuk pembuatannya akibat tersendat oleh kesulitan dana. Ravi Bharwani yang juga merangkap sebagai produser tidak memungkiri bahwa film ini memang berdana rendah dan seringkali tersendat dalam penyelesaiannya, namun ia berusaha untuk tidak mendramatisir perihal kekurangan dana ini.  “At the end, it’s about the right timing.” Dengan bantuan dari Hubert Bals Foundation, Ravi akhirnya dapat menyelesaikan film ini. Demikian juga dengan pendistribusiannya, Ravi Bharwani tidak berharap bahwa Impian Kemarau akan meledak di bioskop-bioskop, mengingat bahwa sejak awal pihak bioskop tidak memberikan tanggapan ketika Ravi menawarkan Impian Kemarau. Dengan semangat agar filmnya dapat diterima seluas-luasnya oleh masyarakat, bersama enam film Indonesia lainnya (antara lain Yazujiro’s Journey karya Faozan Rizal dan Arisan! karya Nia Dinata) Impian Kemarau akhirnya diputar untuk pertama kali untuk publik di Pusan International Film Festival 2004, Korea Selatan, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Indonesia untuk berkompetisi di ajang film paling bergengsi se Asia tersebut. Kang So-won dari Pusan International Film Festival mengklaim bahwa “Ravi Barwani is surely a film-maker for the next generation.” Dalam perjalanannya, film Impian Kemarau diputar di festival film internasional lainnya, yakni:

· Jakarta International Film Festival 2004 (JIFFEST)
· 3rd Q! Film Festival 2004 dan 2005 di Jakarta and Jogjakarta
· Bangkok International Film Festival 2005 (in competition)
· 34th Rotterdam International Film Festival 2005(official selection)
· 7th Barcelona Asian Film Festival 2005 (official selection)
· 8th Shanghai International Film Festival 2005 (in competition)
· Pacific Meridian Film Festival - Russia

Mendapat ulasan dan tanggapan yang sangat baik oleh penonton di berbagai festival film  internasional, Ravi Bharwani tetap menginginkan agar Impian Kemarau dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia, sebab bagaimanapun film ini tidak dibuat khusus untuk festival. Lebih lanjut, saat ini Ravi Bharwani dan M. Abduh Aziz bersama dengan tim publikasi Impian Kemarau tengah mematangkan rencana untuk mendistribusikan film ini dengan cara roadshow ke kampus-kampus di berbagai kota di Indonesia. Roadshow ini bertujuan untuk memberikan alternatif tontonan berkualitas yang berbeda bagi publik di negeri sendiri dan memberikan akses kepada publik di negeri sendiri terhadap film yang sudah diakui oleh masyarakat internasional lewat berbagai festival.
Bagi anda yang belum sempat menonton film ini, Impian Kemarau akan diputar untuk kalangan pers dan umum, diikuti dengan konferensi pers dengan keterangan sebagai berikut:

Tempat              : GALERI OKTAGON
                              Jl. Gunung Sahari Raya No. 50A
                              Jakarta Pusat
                              Telp. 021 8573388
Hari / Tanggal  : Sabtu, 9 Juli 2004
Waktu                : 14.00 WIB – selesai
Acara                 : Pemutaran film Impian Kemarau dan Konferensi Pers.
Dalam acara tersebut akan hadir Ravi Bharwani (sutradara, produser, dan co-writer), M. Abduh Azis (co-produser, co-writer), Shanty Harmayn (co-producer), Clara Shinta (aktris), serta crew Impian Kemarau. Tidak dipungut biaya bagi siapapun yang mengikuti acara ini.

Untuk konfirmasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Barrie Setyawan
cell        : 081 732 555 2
email    : beepitt@yahoo.com
website:
www.rainmaker-id.tk


Posted at 04:08 pm by KupingNaga
What say you? (1)  




Sunday, June 26, 2005
First came these beauties...


Kim Basinger as Vicki Vale - Tim Burton's Batman

Michelle Pfeiffer as Catwoman - TIm Burton's Batman Returns

Nicole Kidman as Chase Meridian - Joel Schumacher's Batman Forever

Drew Barrymore as Sugar - Joel Schumacher's Batman Forever

Uma Thurman as Poison Ivy - Joel Schumacher's Batman and Robin

Now here she comes, the one that really turns me off...
Katie Holmes as Rachel Dawes - Christopher Nolan's Btaman Begins

Is it because of Tom Cruise, or she's really that lucky??

Posted at 12:22 pm by KupingNaga
What say you? (3)  




Wednesday, June 22, 2005
Loosing you

                                 Jakarta sepi banget.

Posted at 04:03 pm by KupingNaga
What say you?  




Tuesday, June 14, 2005
Dear, beloved housemates,

Lalu, DOR!!!
Jantung gue ditembus kata-kata mereka.
Dan sakitnya baru berasa sekarang, waktu gue masih berpayah-payah dengan kepulan asap ganja di sepanjang aliran darah.

Gue ga akan mati..
Gue ga akan mati..

Lalu, DOR!!!
Lambung gue bolong ditembus kata-kata mereka.
Asam lambung mendesis keluar bersama cairan hijau, sisa pertempuran sayur mayur dan lauk pauk, campur fermentasi karbohidrat oleh enzim apalah namanya.

Gue ga akan mati..
Gue ga akan mati..

Dan seperti ketika lo mimpi,
maka lo merasakan mati itu seperti apa.
Hitam, dan lo melayang-layangi jasad yang menangis.

Maka turunlah seperti malaikat yang tersenyum.
Cari jejakan buat kaki yang telanjang agar bisa ditusuki duri.

Agar gue bangun.

Agar gue sembuh.

Agar gue fokus.


Posted at 04:39 pm by KupingNaga
What say you? (4)  




Thursday, June 02, 2005
Jakarta, State of Mind

Bagi jiwa yang mencari, adakah Jakarta menyediakan diri?

Gue melihat dan merasakan Surabaya sebagai lukisan hitam dan putih. Beberapa titik merupakan persinggungan dua warna itu menciptakan area abu-abu yang menyesatkan persepsi. Merasa sebagai coloured-spirit, gue selalu berkata: ‘I don’t feel that I belong here in Surabaya.’

 

Adalah Jakarta, yang kemudian jadi tujuan gue untuk persinggahan berikutnya. Gue merasakan vibra yang ‘menghidupkan’ saat satu atau dua kali gue melakukan kunjungan singkat ke Jakarta. Beberapa teman menyatakan keberatannya dengan alasan klasik bahwa Jakarta adalah kota yang keras, bahwa gue tidak hanya membutuhkan kekuatan finansial yang lebih tapi juga mental yang kuat untuk bisa bertahan.

 

Gue ga mau mengisi hidup gue dengan survival doang. Justru di sini (Surabaya) gue cuman bisa surviving sambil nunggu waktu untuk pergi. Surabaya ga menyediakan kehidupan yang penuh buat gue.

 

Dan demikianlah kekosongan bekerja, lubang hati yang selalu minta dipenuhi, akhirnya kembara pikiran membawa raga gue meloncat sampai ke Jakarta.

 

Welcome to the city. Embrace the madness.

Sambut seorang teman lewat sms.

 

Tapi gue penuh dengan harapan, karenanya gue terbuka seluas-luasnya terhadap segala macam kegilaan: gue lantang menantang Jakarta. Berkelana sepanjang jalur Busway yang menentramkan hati sebab kecil kemungkinannya untuk kesasar, musuh besar kaum udik. Kemegahan sepanjang jalan Sudirman menjadi pemuas mata dan pemenuhan sumur-sumur ego yang kerontang: bekal cerita pada sejawat di daerah. Ini kota urban, Bung! Segala yang kau cari ada di sini, dibalut neon dan musik dalam dinding yang kedap. Berbaur laser yang menembusi udara pekat dan musik yang ragam rancaknya. Warna-warna kulit bercampur di jalan-jalan panas yang terik mencekik. Ini kota yang malamnya meriah oleh ekstrim-ekstrim hidup, menggelung di setiap sudut sejauh mata mencapai. Kesedihan yang menghidupkan, kesenangan yang siap dirayakan. Segala bauran hidup menuntut keluasan pikir dan pengetahuan. Urbansila lebih mengakomodasi daripada Pancasila yang sesak.

 

Betapa gue merasa siap untuk dibabak-belur menangkapi kesemuanya.

 

Tapi antisipasi tentu saja selalu berdasar pada historical experience dan perhitungan detil masa lalu. Kejutan selalu menjadi titik hilang yang seringkali muncul sebagai warna primer di luar dugaan dan intuisi yang kelewat naif buat ukuran Jakarta.

 

Jakarta menyimpan kebaikannya tinggi-tinggi, terlihat seperti onggokan gunung di kejauhan yang bagus dan biru akibat lapis-lapis partikel udara dan kerja optik penglihatan. Dan ketika gue coba menembus jaraknya maka satu per satu hantaman mulai membabak belur.

 

Pertahanan gue mulai bergetar.

 

Kebebasan.

Candu budaya.

Kekuasaan.

Nafsu.

Ke-bokek-an.

Pertemanan.

Kemapanan.

Seks.

 

….

 

Ya, Jakarta penuh dengan kehidupan. Waktu tidak cukup untuk mengenali sebuah Jakarta, mengingat gue tidak tumbuh bersama Jakarta. Keluasan hati gue masih juga harus dibobol untuk menerima segala macam paradoks dan anomali-anomali lainnya. Pikiran gue harus dibedol untuk bisa berbaik-baik dengan hantu-hantu kota yang kadang menyelinap dari kesejukan mal super mahal dan mengikuti gue sepanjang trotoar jalan protokol. Gue harus menahan diri untuk menghindari adiksi kronis bernama life-style, tapi di lain waktu justru gue harus merengkuhnya erat-erat agar dapat menyatu dengan denyutnya.

 

Jakarta sedemikian sureal, begitulah suatu hari pikiran gue mengucap. Tidak lagi dua warna, tapi berjuta, mungkin bermiliar, bertrilyun, berbilyun…infinitive. Sebuah semesta yang merangkum himpunan-himpunan absurditas yang saling silang. Abu-abu hanyalah sebuah partikel atom yang menempel erat pada partikel lainnya yang sambung-menyambung saling berdenyutan dan bersenyawa. Jakarta adalah rumus fisika yang belum ditemukan, hitungan statistik yang selalu berdeviasi, buntalan mental yang tidak terbungkus oleh psikoanalisa, doa yang lupa ditulis di semua kitab, sosio yang tidak terangkum penuh dalam filsafat dan falsafah.

 

Dan gue masih berevolusi di dalamnya.

Masih akan terus.


Posted at 03:07 pm by KupingNaga
What say you? (8)  




Next Page


KupingNaga
Name:
Barrie

Age:
Mid 20's

Religion:
What the..???!! @*#%$ !!!

Sex:
Yes, please

Location:
Either your place or mine

Occupation:
Occupied

Interests:
Omnifreak. I'm interested to anything good

Personality:
Psycoanalize me, i'll freak the hell out of you
   

<< July 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

B E E I S M

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed