 |
|
Tuesday, July 05, 2005
Suatu hari hati gue pergi berkelana
Menjanjikan padang luas dengan rumput emas
Dan bunga-bunga putih kecil disela semak halus
Orang-orang membungkuk diladang, menyemai dan menyiram
Lalu melambai dan tertawa pada bangau yang riuh gembira
Tapi adakah tempat bagi pengelana
kecuali keseluruhan perjalanan yang tidak berujung?
Kita tidak akan mati dengan kesadaran yang komprehensif, nak
Maka nikmatilah dunia seperti seorang pembeli di sebuah pasar bernama hidup
Berjanjilah lalu ingkarlah jika kau tidak bisa menepatinya
Hiduplah seperti itu, sebab kenaifan hanya milik surga
Kesederhanaan dibawa terbang pada sayap-sayap yang meninggi
Suatu hari hati gue pergi berkelana
menjadi milik seluruh perjalanannya
Mewariskan seluruh janjinya
Pada jiwa yang menunggu
.
Posted at 02:41 pm by KupingNaga
Permalink
Tuesday, June 28, 2005
IMPIAN KEMARAU (THE RAINMAKER)
PRESS RELEASE
Impian Kemarau (The Rainmaker) karya Sutradara Ravi Bharwani berhasil memenangkan penghargaan Best Film untuk kategori Asian New Talent Award di ajang The 8th Shanghai International Film Festival yang berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juni 2005. Impian Kemarau menyisihkan sembilan film dari negara-negara Asia lainnya, termasuk film unggulan The Story Undone karya sutradara Iran, Hassan Yektapanah. Dewan juri yang terdiri dari Jia Zhangke, Adoor Gopalakrishnan, Joan Chen, Emanuel Levy, dan Lee Myung-Se memilih Impian Kemarau sebagai film terbaik karena berhasil memadukan kehalusan tradisi Asia dengan semangat eksperimental. Piala penghargaan diserahkan langsung kepada Ravi Bharwani oleh Joan Chen dan aktor Holywood, Brendan Fraser. “Setelah bertahun-tahun, akhirnya ada film Indonesia yang meraih penghargaan di ajang festival film internasional,” komentar John Badalu, yang turut menyertai Ravi Bharwani ke Shanghai. Ravi Bharwani sendiri tidak menyangka bahwa filmnya akan menjadi pemenang. “Saya pikir mereka salah ketika mengumumkan nama pemenangnya. Saya tidak pernah mengira akan datang dan menang. Dari awal saya sudah tahu bahwa ini film yang sulit. Film ini mendapat reaksi ekstrim dari penonton: suka atau tidak suka sama sekali.” Awalnya Ravi Bharwani tidak berencana untuk datang ke Shanghai, namun dengan dukungan dari KADIN di Shanghai dan Garuda Indonesia, akhirnya ia berkesempatan untuk menghadiri festival tersebut.
Impian Kemarau adalah sebuah kisah mengenai 3 manusia, dengan tujuan hiidup masing-masing ,
yang berinteraksi di sebuah desa yang tandus dan kering.Johan, seorang meteorolog yang sedang berusaha membuat hujan buatan agar bisa membasahi daerah yang tandus itu. Asih, penyanyi sinden yang suaranya telah menjadi oase bagi Johan. Pembantu Asih yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih kepada sang sinden. Bertolak belakang dari pendekatan Johan akan hidup, sang pembantu lebih sebagai pengamat, menerima dan menjalani hidup tanpa bertanya ataupun berharap. Impian Kemarau adalah sebuah film "mood" dan atmosfir yang membebaskan penontonnya untuk menikmati pengalaman akan ilusi yang ditawarkan oleh film. Untuk “merasa” dan bukan sekedar “melihat”. Mood dan atmosfir ini dihantarkan melalui visual-visual puitis namun kuat oleh sinematografer handal Yudi Datau dan penataan artistik yang digarap Manfo Tantono.
Ide cerita, menurut co-producer M. Abduh Aziz, muncul pada tahun 1998 pada saat terjadi perubahan mendasar di Indonesia. Pada fase itu muncul harapan-harapan akan adanya keadaan yang lebih baik, namun pada kenyataannya harapan-harapan itu kemudian menjadi terlalu besar dari yang bisa diberikan. Ide ini kemudian dikembangkan ke dalam skenario oleh Armantono, M. Abduh Aziz, dan Ravi Bharwani sendiri. Produksi ditangani oleh Ravi Bharwani bersama-sama dengan Salto Films dan Cinemasphere. Aktor-aktor yang terlibat dalam produksi ini antara lain adalah Levie Hardigan, Clara Shinta, dan Ria Irawan.
Impian Kemarau yang merupakan karya pertama dari Ravi Bharwani menghabiskan waktu 5 tahun untuk pembuatannya akibat tersendat oleh kesulitan dana. Ravi Bharwani yang juga merangkap sebagai produser tidak memungkiri bahwa film ini memang berdana rendah dan seringkali tersendat dalam penyelesaiannya, namun ia berusaha untuk tidak mendramatisir perihal kekurangan dana ini. “At the end, it’s about the right timing.” Dengan bantuan dari Hubert Bals Foundation, Ravi akhirnya dapat menyelesaikan film ini. Demikian juga dengan pendistribusiannya, Ravi Bharwani tidak berharap bahwa Impian Kemarau akan meledak di bioskop-bioskop, mengingat bahwa sejak awal pihak bioskop tidak memberikan tanggapan ketika Ravi menawarkan Impian Kemarau. Dengan semangat agar filmnya dapat diterima seluas-luasnya oleh masyarakat, bersama enam film Indonesia lainnya (antara lain Yazujiro’s Journey karya Faozan Rizal dan Arisan! karya Nia Dinata) Impian Kemarau akhirnya diputar untuk pertama kali untuk publik di Pusan International Film Festival 2004, Korea Selatan, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Indonesia untuk berkompetisi di ajang film paling bergengsi se Asia tersebut. Kang So-won dari Pusan International Film Festival mengklaim bahwa “Ravi Barwani is surely a film-maker for the next generation.” Dalam perjalanannya, film Impian Kemarau diputar di festival film internasional lainnya, yakni:
· Jakarta International Film Festival 2004 (JIFFEST)
· 3rd Q! Film Festival 2004 dan 2005 di Jakarta and Jogjakarta
· Bangkok International Film Festival 2005 (in competition)
· 34th Rotterdam International Film Festival 2005(official selection)
· 7th Barcelona Asian Film Festival 2005 (official selection)
· 8th Shanghai International Film Festival 2005 (in competition)
· Pacific Meridian Film Festival - Russia
Mendapat ulasan dan tanggapan yang sangat baik oleh penonton di berbagai festival film internasional, Ravi Bharwani tetap menginginkan agar Impian Kemarau dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia, sebab bagaimanapun film ini tidak dibuat khusus untuk festival. Lebih lanjut, saat ini Ravi Bharwani dan M. Abduh Aziz bersama dengan tim publikasi Impian Kemarau tengah mematangkan rencana untuk mendistribusikan film ini dengan cara roadshow ke kampus-kampus di berbagai kota di Indonesia. Roadshow ini bertujuan untuk memberikan alternatif tontonan berkualitas yang berbeda bagi publik di negeri sendiri dan memberikan akses kepada publik di negeri sendiri terhadap film yang sudah diakui oleh masyarakat internasional lewat berbagai festival.
Bagi anda yang belum sempat menonton film ini, Impian Kemarau akan diputar untuk kalangan pers dan umum, diikuti dengan konferensi pers dengan keterangan sebagai berikut:
Tempat : GALERI OKTAGON
Jl. Gunung Sahari Raya No. 50A
Jakarta Pusat
Telp. 021 8573388
Hari / Tanggal : Sabtu, 9 Juli 2004
Waktu : 14.00 WIB – selesai
Acara : Pemutaran film Impian Kemarau dan Konferensi Pers.
Dalam acara tersebut akan hadir Ravi Bharwani (sutradara, produser, dan co-writer), M. Abduh Azis (co-produser, co-writer), Shanty Harmayn (co-producer), Clara Shinta (aktris), serta crew Impian Kemarau. Tidak dipungut biaya bagi siapapun yang mengikuti acara ini.
Untuk konfirmasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:
Barrie Setyawan
cell : 081 732 555 2
email : beepitt@yahoo.com
website: www.rainmaker-id.tk
Posted at 04:08 pm by KupingNaga
Permalink
Sunday, June 26, 2005
First came these beauties...
Posted at 12:22 pm by KupingNaga
Permalink
Wednesday, June 22, 2005
Jakarta sepi banget.
Posted at 04:03 pm by KupingNaga
Permalink
Tuesday, June 14, 2005
Dear, beloved housemates,
Lalu, DOR!!!
Jantung gue ditembus kata-kata mereka.
Dan sakitnya baru berasa sekarang, waktu gue masih berpayah-payah dengan kepulan asap ganja di sepanjang aliran darah.
Gue ga akan mati..
Gue ga akan mati..
Lalu, DOR!!!
Lambung gue bolong ditembus kata-kata mereka.
Asam lambung mendesis keluar bersama cairan hijau, sisa pertempuran sayur mayur dan lauk pauk, campur fermentasi karbohidrat oleh enzim apalah namanya.
Gue ga akan mati..
Gue ga akan mati..
Dan seperti ketika lo mimpi,
maka lo merasakan mati itu seperti apa.
Hitam, dan lo melayang-layangi jasad yang menangis.
Maka turunlah seperti malaikat yang tersenyum.
Cari jejakan buat kaki yang telanjang agar bisa ditusuki duri.
Agar gue bangun.
Agar gue sembuh.
Agar gue fokus.
Posted at 04:39 pm by KupingNaga
Permalink
Thursday, June 02, 2005
Bagi jiwa yang mencari, adakah Jakarta menyediakan diri?
Gue melihat dan merasakan Surabaya sebagai lukisan hitam dan putih. Beberapa titik merupakan persinggungan dua warna itu menciptakan area abu-abu yang menyesatkan persepsi. Merasa sebagai coloured-spirit, gue selalu berkata: ‘I don’t feel that I belong here in Surabaya.’
Adalah Jakarta, yang kemudian jadi tujuan gue untuk persinggahan berikutnya. Gue merasakan vibra yang ‘menghidupkan’ saat satu atau dua kali gue melakukan kunjungan singkat ke Jakarta. Beberapa teman menyatakan keberatannya dengan alasan klasik bahwa Jakarta adalah kota yang keras, bahwa gue tidak hanya membutuhkan kekuatan finansial yang lebih tapi juga mental yang kuat untuk bisa bertahan.
Gue ga mau mengisi hidup gue dengan survival doang. Justru di sini (Surabaya) gue cuman bisa surviving sambil nunggu waktu untuk pergi. Surabaya ga menyediakan kehidupan yang penuh buat gue.
Dan demikianlah kekosongan bekerja, lubang hati yang selalu minta dipenuhi, akhirnya kembara pikiran membawa raga gue meloncat sampai ke Jakarta.
Welcome to the city. Embrace the madness.
Sambut seorang teman lewat sms.
Tapi gue penuh dengan harapan, karenanya gue terbuka seluas-luasnya terhadap segala macam kegilaan: gue lantang menantang Jakarta. Berkelana sepanjang jalur Busway yang menentramkan hati sebab kecil kemungkinannya untuk kesasar, musuh besar kaum udik. Kemegahan sepanjang jalan Sudirman menjadi pemuas mata dan pemenuhan sumur-sumur ego yang kerontang: bekal cerita pada sejawat di daerah. Ini kota urban, Bung! Segala yang kau cari ada di sini, dibalut neon dan musik dalam dinding yang kedap. Berbaur laser yang menembusi udara pekat dan musik yang ragam rancaknya. Warna-warna kulit bercampur di jalan-jalan panas yang terik mencekik. Ini kota yang malamnya meriah oleh ekstrim-ekstrim hidup, menggelung di setiap sudut sejauh mata mencapai. Kesedihan yang menghidupkan, kesenangan yang siap dirayakan. Segala bauran hidup menuntut keluasan pikir dan pengetahuan. Urbansila lebih mengakomodasi daripada Pancasila yang sesak.
Betapa gue merasa siap untuk dibabak-belur menangkapi kesemuanya.
Tapi antisipasi tentu saja selalu berdasar pada historical experience dan perhitungan detil masa lalu. Kejutan selalu menjadi titik hilang yang seringkali muncul sebagai warna primer di luar dugaan dan intuisi yang kelewat naif buat ukuran Jakarta.
Jakarta menyimpan kebaikannya tinggi-tinggi, terlihat seperti onggokan gunung di kejauhan yang bagus dan biru akibat lapis-lapis partikel udara dan kerja optik penglihatan. Dan ketika gue coba menembus jaraknya maka satu per satu hantaman mulai membabak belur.
Pertahanan gue mulai bergetar.
Kebebasan.
Candu budaya.
Kekuasaan.
Nafsu.
Ke-bokek-an.
Pertemanan.
Kemapanan.
Seks.
….
Ya, Jakarta penuh dengan kehidupan. Waktu tidak cukup untuk mengenali sebuah Jakarta, mengingat gue tidak tumbuh bersama Jakarta. Keluasan hati gue masih juga harus dibobol untuk menerima segala macam paradoks dan anomali-anomali lainnya. Pikiran gue harus dibedol untuk bisa berbaik-baik dengan hantu-hantu kota yang kadang menyelinap dari kesejukan mal super mahal dan mengikuti gue sepanjang trotoar jalan protokol. Gue harus menahan diri untuk menghindari adiksi kronis bernama life-style, tapi di lain waktu justru gue harus merengkuhnya erat-erat agar dapat menyatu dengan denyutnya.
Jakarta sedemikian sureal, begitulah suatu hari pikiran gue mengucap. Tidak lagi dua warna, tapi berjuta, mungkin bermiliar, bertrilyun, berbilyun…infinitive. Sebuah semesta yang merangkum himpunan-himpunan absurditas yang saling silang. Abu-abu hanyalah sebuah partikel atom yang menempel erat pada partikel lainnya yang sambung-menyambung saling berdenyutan dan bersenyawa. Jakarta adalah rumus fisika yang belum ditemukan, hitungan statistik yang selalu berdeviasi, buntalan mental yang tidak terbungkus oleh psikoanalisa, doa yang lupa ditulis di semua kitab, sosio yang tidak terangkum penuh dalam filsafat dan falsafah.
Dan gue masih berevolusi di dalamnya.
Masih akan terus.
Posted at 03:07 pm by KupingNaga
Permalink
Friday, May 20, 2005
Pahlawan Pulang Perang IV
Sebagai anak pertama dalam keluarga gue, kakak gue, naturally, menggemban tugas sebagai penentu target buat adik-adiknya. Beruntunglah, dengan ketokceran otak yang emang encer, kakak gue selalu berhasil mencetak standar setinggi-tingginya: ranking 3 besar, lulus SD dengan NEM tinggi, masuk SMP negeri yang passing gradenya gila-gilaan, lulus dengan NEM yang cukup untuk masuk SMU negeri no 1 di Cirebon; kota kecil tapi standar pendidikannya gak kalah dengan ibukota propinsi. Lulus SMU berhasil nembus UMPTN untuk dapetin kursi di Institut Teknologi terkenal.
Sementara gue seperti dikutuk untuk selalu jadi no 2. Dan entah kenapa, sampai sekarang gue ga juga menemukan logikanya, biaya pendidikan di sekolah no 2 selalu lebih tinggi dari sekolahan no 1. Nyokap gue mengutarakan kebingungannya dengan bilang ‘di sekolah kakakmu gak mahal kaya gini deh..Padahal kan lebih bagus..’
Menjelang lulus SMU, nyokap mengirim gue untuk mengikuti ujian masuk di beberapa universitas swasta di Surabaya. Di universitas-universitas itu gue selalu lulus dengan grade yang baik, yang memungkinkan gue untuk memilih uang sumbangan pendidikan yang paling murah. Tapi semurah-murahnya swasta, pada saat itu kemampuan nyokap gue ga mencukupi untuk menyekolahkan gue di sana. Jadi tetep harapan gue satu-satunya untuk melanjutkan kuliah adalah UMPTN. Ujian masuk yang udah gue ikuti gue anggep sebagai latihan untuk menghadapi UMPTN, ujian yang sebenar-benarnya.
Kakakmu bisa, masak kamu nggak bisa..
Nyatanya emang ga bisa. Gue gagal UMPTN.
Berhari-hari gue membolak-balik lembaran koran yang sama untuk mencari nama gue di sana. Gue gak mampu bicara. Hati gue terlalu disakiti sama kekalahan kali itu. Gue gak rela. Segera setelah sampai pada nama terakhir dari daftar itu, gue mulai lagi dari nama pertama. Demikian tiap hari. Gue berhenti mencari nama gue Cuma untuk tidur atau makan atau mandi. Gue gak ngomong sama siapapun, ke nyokap, ke nenek, ke ade-ade gue, ke siapapun. Gue harus nemuin nama gue.
Udahlah, Barrie..memang ga jodohnya kamu. Mama akan berusaha dapetin duit supaya kamu bisa daftar ulang di Universitas X. Tenang aja, mama ga akan kuliahin kamu di tempat yang jelek.
Nyatanya nyokap gue ga dapetin duit buat gue untuk daftar ulang di universitas yang bagus itu.
Saat itulah gue merasa kehilangan seluruh diri gue. Gue marah ke diri gue karena ga cukup pandai untuk lulus UMPTN dan harus ngerasain sakitnya kekalahan dari kakak gue. Gue marah sama nyokap yang gak sanggup nyediain biaya bagi gue untuk kuliah di universitas swasta yang baik. Gue marah sama Tuhan karena selalu bikin gue kalah, mulai dari sepeda, cinta nenek gue, kebanggaan nyokap gue, kepandaian gue, sekolah-sekolah gue, UMPTN…
Gue menghukum diri gue sendiri dengan terus menerus meneliti daftar lulus UMPTN di lembaran koran yang udah kucel dan sobek-sobel di beberapa bagian karena ketetesan air mata gue. Gue menghukum nyokap gue dengan kediaman gue. Gue menghukum Tuhan dengan menghilangkan kepercayaan gue.
Barrie, Mama dibilangin sama Budi (sepupu gue) kalau kampus dia masih buka pendaftaran. Uang kuliahnya murah, dan nggak pake uang pangkal. Kamu mau kuliah di situ? Mama bisa usahakan biayanya.
Sekali lagi nyokap gue menyakiti gue. Gue gak menjawab dan kembali ke deretan awal daftar nama lulus UMPTN.
Sampai suatu hari nyokap gue merobek-robek lembaran itu dan menampar gue ketika gue gak juga merespon kata-katanya.
Denger! Ini terakhir mama nawarin ke kamu. Kamu harus tau bahwa memang mama nggak sanggup kuliahin kamu di universitas yang bagus. Tapi di manapun kamu kuliah, kalau kamu memang pandai dan mampu, hasilnya akan sama aja! Pendaftaran terakhir lusa. Terserah kamu. Kamu yang ngejalanin hidup kamu sendiri, bukan mama! Kamu yang nentuin bakal jadi apa!!
Lelah oleh kekalahan yang kronis dan self-punishing yang gila-gilaan, gue gak mampu ngejawab nyokap gue. Badan gue ambruk. Entah pingsan atau emang tertidur, gue baru bangun keesokan harinya, packing baju gue dan keperluan lainnya, lalu bilang ke nyokap gue: ‘Ma, Barrie mau daftar kuliah..’
Sorenya, gue dan nyokap gue berangkat ke Surabaya.
Gue sadari betul bahwa sejak saat itu gue menapaki hidup dengan dendam yang bercokol di hati gue. Hidup gue bener-bener berubah sejak saat itu. Komunikasi gue dengan nyokap gak pernah lagi pulih: gue hanya bicara dengan nyokap kalau diperlukan. Bahkan ketika akhirnya gue sadar dan menerima, gue tetap gak bisa balik lagi kaya dulu. Penyesalan terbesar dalam hidup gue sebab gue gak lagi bisa balik jadi Barrie yang dulu, yang cerewet, yang manja, yang suka becanda dengan nyokap gue. Bahkan gue meyembunyikan senyum gue ketika gue ingin tersenyum ke nyokap gue. Setengah mati gue menahan diri gue ketika gue ingin mencium atau memeluk nyokap gue. Gue selalu menyudahi percakapan dengan jawaban-jawaban pendek ketika gue masih ingin ngobrol dan berdiskusi dengan nyokap gue…
Barrie minta maaf, ya, Ma..
Barrie minta maaf.
Nggak mampu terucap, tapi Barrie bener-bener nyesel.
Posted at 02:56 pm by KupingNaga
Permalink
Tuesday, May 17, 2005
Pak Gordon, kamu di mana?
Wuuussszzzzhhhhhh…..!!!
Ho..ho..ho….! klining..klining..klining...
Lha kok kaya sinterklas?
Enak aja! Sejak kapan sinterklas jadi langsing dan seksi kaya saya?
Iya ya…sinterklas kan ga botak kaya situ…
Siapa bilang sinterklas ga botak? Ketutup topi tau!
Kok jadi ngebahas? Ga penting gitu lookkhh…
Oke..oke…jadi ada apa lagi nih? Dah lama kamu ga butuh saya sejak kaset A Thousand Years ketinggalan di travel Bali-Surabaya.
Haduh! Beg you apologize..Tapi.. iya…saya lagi inget banget Perfect Love Gone Wrong…
There you go!!! Hahahahahaha…sekarang saya tau kenapa kamu panggil saya lagi…Hahahahahahahahaha….
Pak Gordon, saya ga butuh diketawain sama kamu yaaa! Nyanyi dong….
Ehem…Hemmm…Hemm…
I've had a question that's been preying on my mind for some time
I won't be wagging my tail for one good reason
It has to be a crime
Anjing ga goyang-goyangin buntutnya kalo lagi bingung.
Suka-suka!
This dog house never was the place for me,
Runner up and second best just ain't my pedigree
I was so happy, just the two of us
Until this alpha male
Turned up in the January sale
Padahal alpha male nya justru saya…
Pembenaran…pengagungan cinta…hati nggak sejalan sama otak. Tenang aja, tuan, semua orang juga begitu..yang dibikin goblok bukan kamu aja.
He won't love you
Like I love you
It won't be long now before that puppy goes astray
And what I like about this guy the most
He'd be my favourite lamp post
Devil take the hindmost
Bener banget! I adore your cynical lyrics, Pak Gordon! You’re a God! Kamu bener-bener menyengat! Aw!
Hehehehe…Indeed..indeed…
It's a shaggy kind of story
Would I tell you if I thought it was a lie?
But when the cat's away the mouse will play,
I wouldn't dish around here
There's something fishy 'round here
Kamar saya lagi bau banget. Dua hari yang lalu hujan lebat banget. Besoknya kamar saya bau bangkai. Mungkin ada tikus keujanan, trus masuk ke para-para lalu saking paniknya nginjek kabel yang karetnya terkelupas. Baunya gila-gilaan! Tapi saya males mo cari bangkainya ada di mana.
Ikkkkhh..jorok banget! Saya jadi nggak niat nyanyi lagi nih…
Oh..please? Please? Please? Saya butuh sarkasme kamu…
Jangan ingetin saya sama tikus mati itu ya! Saya paling ga suka sama tikus. Bangke nya apa lagi..
I howl all night and I sleep all day
It takes more than biscuit, baby, to chase these blues away
I've got a long enough leash
I could almost hang myself
It's a dogs life loving you baby
But you love someone else
Now he's moved by basket
I'd like to put him in a casket
I'll wear my best collar to his funeral
Horrreee!!! Horeeeee!!! Tapi jangan Cuma ngarep doang dong!!! Panggil Jack The Ripper, biar sekalian di bedah perutnya!
Jack ga ngebunuh laki-laki lho…
Ya udah..Ted Bundy kek…
Teddy doyannya ngegorok perempuan..
Dahmer aja kalo gitu…Yang ini homo kan?
Kayanya saya balik aja ke botol deh…Kamu bikin saya mual…Tadi bangkai tikus, sekarang orang gila.
Wah…humornya Inggris emang beda ya…
MO DINYANYIIN GA!!!!
Hehehehe…mau..mau…Ayo bikin saya semangat!
Huh!
To have found this perfect life
And a perfect love so strong
Well there can't be nothing worse
Than a perfect love gone wrong
Huuuu..huuuuu..huuuu…huuuuuu….
Eee...lha dalah!…Kok malah nangis?
Haaaaauuuuuuuuuuwww….!!!!
Lho kok? Lhoo…kook?? Diselesaiin nggak nih? Tinggal dikit!
Iyaaa…iyaaa….monggoo…huuuww..hiks!
cep..cep..cep...nyanyi lagi yaa...
You said I wasn't just your Christmas toy
I'd always be your boy
I'd be your faithful companion
And I would follow you through every thick and thin
Don't need nobody else
And we don't need him
HAAAAAAUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!! HHHAAAAAAUUUUUUUUUUUUUUUUWWWWWWWHHHHH!!!!! HAAAAAAAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUWWWWWWWWWW!!!
(Cressendo: score-nya Psycho - The Shower scene)
Pak Gordon kaget.
Tampangnya mengerenyit.
Gue berubah jadi anjing, melolong-lolong pada lampu bohlam 40 watt sebagai pengganti bulan.
Pak Gordon makin ngeri ketika gue meringis ke arahnya sambil meneteskan banyak liur…Entah ngeri pada seringai gue, entah karena dia sangat higienis.
Tubuh Pak Gordon menyublim jadi asap kepul-mengepul ketika saya menerkamnya.
Puufff…
Gue ketawa-ketawa…Orang Inggris emang cupu!!!
Posted at 01:06 pm by KupingNaga
Permalink
Wednesday, May 04, 2005
J.W. Marriott-Mega Kuningan. Persinggahan.
Tadi pagi Tuhan singgah sebentar.
Saya takut, kak.
Temanilah saya.
Tangisan diamnya mengantarkan kami pada lintasan Tuhan.
Berharaplah. Lalu pergilah dari situ.
Saya berharap agar saya tidak mengharapkannya.
Sekarang kemana saya pergi?
Dan jarak kami terhubung darah?
Dan mati pun diteruskan oleh kenangan?
Tapi hatimu tidak berjarak.
Hanya kamu penjaga pintunya.
Bukankah kakak juga menangis kala itu?
Seperti ketika saya menjagal hati saya,
rasa sakitnya
sungguh patut ditangisi.
Tadi pagi Tuhan lewat sebentar.
Irisan kenangan yang lama terbunuh.
Tapi kemudian saya tahu bahwa ia akan selalu ada.
Sesekali akan melintas.
Dan kenangan menjadi keluluhlantakan yang abadi.
Posted at 06:01 pm by KupingNaga
Permalink
Monday, May 02, 2005
Pahlawan Pulang Perang (3)
Jangan ada tangis, adikku, sebab airmata milik surga
dan kita mahluk bawah langit.
Ingat saja pada tawa yang dahulu
Dan rayakan pula hidupku.
Selagi masa pra sekolah (umur gue masih 3 taun), nyokap memaksa gue untuk belajar membaca. Setiap hari kamis, di mulailah neraka kecil itu: majalah Bobo terbaru tergeletak di atas meja bersama sebuah buku tulis, potlot yang sudah diruncingkan, penghapus karet putih dengan kepala berwarna hijau. Dan sebilah penggaris kayu yang berjasa besar dalam memacu percepatan kemampuan membaca gue: tiap kali gue salah mengeja, maka nyokap akan mendaratkan satu atau dua ketokan penggaris ke kepala, atau pipi, atau punggung, atau tangan, atau seluruh tubuh gue.
Makasih, ya, penggaris kayu!
Jadi ketika masuk TK, gue selalu membuat guru-guru heran dan takjub karena gue sudah lancar membaca sementara teman-teman yang lain masih berkutat dengan I..n-I, ni. Ini. I..b-u,bu. Ibu. B-u,bu..d-I,di. Budi. Iiinnniii..iibbbuuuu..bb..buuudddddiiiiiii!!!
Kelas 3 SD daftar bacaan gue adalah Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Rumah Kecil di Padang Rumput, Wiro Sableng, Pendekar Rajawali Sakti, ‘Oh Mama, Oh Papa', Rubrik Seksologi Dr. Naek L Tobing, majalah Femina, Kartini, dll. Gue mengenal istilah macam selaput dara, penetrasi, ejakulasi, orgasme, eksibisionis, homoseksual, lesbian, dll. Gue cukup mengetahui bahwa masturbasi kurang lebih memiliki pengertian yang sama dengan onani, yang merupakan kebiasaan buruk bila dilakukan secara berlebihan dan dapat ditanggulangi dengan memperbanyak kegiatan seperti berolahraga. Suatu hari teman SD gue bercanda, lalu memukul bahu gue sebagai bagian dari candaannya. Gue kesakitan dan marah, lalu mengejar teman gue itu yang ternyata larinya lebih kencang dari gue. Dari kejauhan teman gue cengengesan sambil sesekali menjulurkan lidah. Karena rasa dongkol yang tidak lagi tertahan, gue berteriak sekencang-kencangnya: MAAASSSOOOKKKIIIISSSS!!!!!!!
Teman gue itu bingung. Lidahnya kembali ke tempatnya, mencoba menelan lalu mencerna magic word yang barusan gue lontarkan. Dia datang mendekat, lalu bertanya ‘tadi kamu bilang apaan,sih?
Ganti gue yang menjulurkan lidah dan menimpakan sebogem mentah ke bahunya. Lalu lari sejauh-jauhnya dengan rasa puas tak terhingga: lidah dibalas lidah, bahu dibalas bahu, ditambah bonus penjatuhan mental yang telak secara intelektual.
Kelas 5 SD, seorang teman membawa stensilan Anie Arrow (gue ga yakin tulisannya bener ato ga). Berbondong-bondong seluruh teman laki-laki mendaftar untuk masuk waiting list agar bisa meminjam buku itu dan membacanya di rumah. Sebulan kemudian gue pulang sekolah dengan jantung deg-degan ga karuan. Sampai di rumah gue ganti baju, lalu pergi ke kamar mandi, Anie Arrow terselip di pinggang. Pengalaman seksual gue yang pertama, jauh sebelum wet dream gue yang pertama. Judulnya Tante Rossa, wanita yang sangat mempesona sebab bulu kemaluannya luar biasa lebat!
Tapi sampai sejauh itu, technically gue ga tau yang namanya sex. Gue jago teori. Masih bisa dibanggakan sebab sex vocabulary gue jauh lebih lengkap dan sophisticated. Teman-teman gue bilang ‘mem*k' sementara gue bilang vagina. Gue bilang ejakulasi untuk menggantikan kata ‘moncrot', Sperma untuk ‘p*juh', Coitus untuk ‘ng*we'. Hanya saja banyak teman gue yang pada saat itu sudah melakukan ‘c0li' sementara gue masih kebingungan dengan caranya. GUe jago teori doang! Di saat pamer, teman-teman selalu membuat tanda serupa cincin dengan mempertemukan ujung ibu jari dengan ujung telunjuk lantas mengoyang-goyangkannya. DI kamar mandi, ‘cincin' itu sudah siap melingkar, tapi yang terjadi kemudian adalah rasa tidak nyaman dan gue segera menyudahi kegiatan itu dengan rasa kuatir bahwa gue ga normal. Mr. Happy gak mau bangun. Kata Dr. Naek, artinya gue menderita gejala impoten! Gue menyimpan rahasia itu dari teman-teman dan menutupinya dengan kecanggihan kosa kata gue. Tapi di dalam hati gue bertekad bahwa suatu hari gue akan berhasil. Setiap kali teringat metode cincin, gue selalu mencoba lagi, tapi tentu saja selalu gagal. Jelas lah, mana bisa berhasil. Yang bekerja hanya ibu jari dan telunjuk.
Suatu hari nyokap gue meminta gue untuk mengintip kakak gue di kamar mandi. Nyokap curiga sebab kakak gue selalu keluar dalam keadaan kering setiap kali habis dari kamar mandi.. Tidak ada suara gebyuran air, hanya gemericik sesekali. Misi gue adalah untuk memvalidasi kecurigaan nyokap bahwa kakak gue gak pernah mandi dengan beres, dan dengan validnya kecurigaan itu, maka ia punya bukti untuk menegur kakak gue.
Kok Barrie yang di suruh nginptip?
Mama kan perempuan! Nanti kakakmu malu kalau ketauan diintip sama mama.
Maka gue mengintip kakak gue dari celah ventilasi di atas pintu kamar mandi. Nyokap berdiri di dekat pintu dapur, menganggukkan kepala ketika gue menoleh ke arahnya.
Sunyi.
Cuma gemeresik sesekali terdengar dari dalam kamar mandi. Sekali lagi gue menoleh ke arah nyokap. Ia sudah mengintruksikan supaya gue bertahan selama mungkin dan turun dari kursi pijakan di waktu yang tepat agar ga ketauan kakak gue. Setelah memantapkan hati, gue mengatur posisi kepala agar bisa melihat apa yang ada di dalam kamar mandi.
Dan..
Eeenngg-Eiiiinnnnnggg-Eeeennngg...!!
Kurang dari waktu yang diinginkan oleh nyokap gue, gue menyudahi misi pengintipan itu. Gue dapat jawaban. Dua jawaban, actually.
Pertama: kakak gue memang ga mandi dengan properly.
Yang kedua : ibu jari dan telunjuk won’t do, but the whole fingers and palm forming a grab will absolutely rrrooooccckkk!!
3 hari kemudian gue merayakan pengetahuan itu dengan melakukan masturbasi untuk yang pertama kalinya. Kelas 2 SMP kalo ga salah..
Posted at 04:29 pm by KupingNaga
Permalink
|
|
 |
KupingNagaName:
Barrie
Age:
Mid 20's
Religion:
What the..???!! @*#%$ !!!
Sex:
Yes, please
Location:
Either your place or mine
Occupation:
Occupied
Interests:
Omnifreak. I'm interested to anything good
Personality:
Psycoanalize me, i'll freak the hell out of you
B E E I S M
|
|
 |