Ibarat taneman, blog gue nyaris seperti kaktus. Bukan maksud mau bikin joke garing semriwing, tapi gue pernah punya pengalaman dengan kaktus yang nyaris sama nasibnya dengan blog gue: ditinggal.
Jadi, dulu gue pernah membeli sebuah kaktus mini dari sebuah mal di Surabaya. Yang gue pikirin waktu itu:
-
Kamar kos gue yang damai tapi gersang, kayanya sebuah kaktus mungil nan lucu dengan kepala merah berduri bisa bikin kamar gue terasa gersang tapi berkaktus.
-
Gue butuh sesuatu buat dipiara. Kala itu orang-orang ramai dengan piaraan elektronik bermerek Tamagochi, secara gue adalah seoang anti mainstream maka kaktus adalah komplementer yang baik untuk ngeles dari tuduhan peniruan.
-
Kaktus kan tanaman gurun, jadi ga ribet harus nyiramin tiap hari. Kalopun harus nyiram, penjualnya bilang si kaktus lucu ini cuma butuh satu sendok teh setiap harinya.



Maka, pulanglah bersama gue si kaktus. Di sepanjang jalan gue berpikir keras nyari nama yang tepat buatnya.
Dan jadilah kesayangan gue itu tersirami setiap harinya dengan satu sendok teh air pegunungan alias Aqua. Makin lama-makin gede dan makin lama gue makin sayang. Sepentul puting merah muncul dari kehijauan batang si kaktus: bakal kepala merah yang baru! Aih! Makin jadilah cinta gue, serasa jadi calon bapak muda! Emaknya gue manja dengan dosis air pegunungan yang makin royal.
Dan tibalah liburan semester! Packing..packing..packing... Kaktus cantik udah gue siapin, dan berangkatlah gue pulang.. Seminggu, dua minggu, tiga minggu... Smeinggu lagi gue udah harus balik Surabaya. Tiba-tiba gue inget sesuatu...
..............SI KAKTUS DI MANA???................
Seminggu berlalu, gue sampai di depan pintu kos. Lunglai kehilangan si kaktus yang semoga kebawa sama pecinta tetumbuhan yang satu kereta sama gue waktu itu.
Bahkan gue belum melihat sepentul puting merah itu membesar...
Kamar gue berasa kering kerontang. Kembali gersang, kali ini tanpa damai sebab hati gue rusuh diombang-ambing nasib si Kaktus.
Bahkan gue belum sempet nemu nama buat dia...
Mak gedabruk gue jatuhkan punggung ke kasur busa kos-kosan, dan pada saat yang sama mata gue tertumbuk pada sesuatu di antara bantal dan tembok kamar.
Pot kecil tempat si Kaktus menjejakkan akarnya.
Selanjutnya adalah hal yang sama seperti ketika Clarice Starling mengautopsi mayat korban pembunuhan Buffalo Bill: batang mengering dan keriput dari sebuah kaktus mati. Warna kulitnya nggak lagi hijau tapi kuning kecoklatan seperti kulit tahu kepanasan kena minyak goreng.. Kepala merah itu menghitam, sepentul puting merah tinggal setitik nila di kerutan kuning mengering.
Enuf with the graphics..Gue sakit hati!
Ternyata blog gue lebih tangguh dari si Kaktus tak bernama itu! Masih setia menunggu pemikiran cemerlang, kisah-kisah menakjubkan, hingga keluhan-keluhan depresif gue yang sudah lama kehilangan kemewahan untuk menikmati bakat autis gue.
No pay no game, kata Paman Gober. Blog gue ga akan kisut kering di tengah carut marut dunia perblog-an!
Halah!