Tadi waktu berak pagi, di dinding kamar mandi ada semut pindah kampung. Kecil, hitam, berkeremut membentuk garis panjang dari sarang lama yang ditinggalkan ke sarang baru. Beberapa kerepotan membawa telur, yang lain nampak riang ria menyalip. Satu dua semut terjatuh ketika gue memerciki mereka dengan air, beberapa saat iringan gotong royong itu bubar serabutan, lalu kembali lagi pada garis semula.
Konon semut itu buta, mereka diarahkan oleh bau dari cairan yang mereka keluarkan sepanjang jalur perjalanannya. Itu sebabnya, waktu kecil kita menyangka bahwa semut gemar bersalaman.

Lantas muncul dari lubang sarang lama seekor semut yang badannya dua tiga kali lebih besar dari semut-semut riang tadi. Jalannya lambat, terseok-seok melawan gravitasi yang menggantungi berat badannya. Kembali semut-semut kecil serabutan, kali ini mengitari si gemuk. Satu semut maju dan menempelkan sungutnya pada perut si besar, lalu serta merta mundur. Satu lagi menyundul pantatnya lantas berputar dan tunggang langgang mendahului si besar. Demikian satu-satu semut itu menempelkan kepalanya ke si besar lalu pergi, namun tetap melingkari semut besar hingga sampai ke sarang yang baru.
Semut.
Naluri.
Sistem.
Selalu gue berkata ke teman-teman gue bahwa gue adalah seorang pasif-agresif, itu sebabnya gue terlihat sombong pada kesan-kesan awal. Gue mengistilahkan kelakuan itu sebagai defense-mechanism, bukan disebabkan oleh kesombongan yang murni. Ego gue adalah si besar yang terseok karena menahan berat badannya agar tidak jatuh, dan ‘kesombongan’ gue adalah semut-semut kecil yang serabutan memberi semangat agar gue terus maju, masuk ke sarang yang baru.
Atau ketika teman-teman gue sebal karena celetukan2 gue yang memuji diri sendiri, narsisme yang kelewatan. Sebuah system pertahanan diri yang gue ciptakan justru karena gue sadar betul akan keterbatasan gue. Itu sebabnya gue selalu tertawa setelah meberikan statement narsis gue. Menawarkan perasaan bersalah karena menyanjung diri sendiri. Menertawakan diri gue sebab gue tidak pernah mencapai ketinggian yang gue koar-koarkan.
Satu lagi semut besar muncul. Sama, terseok lalu dikerubungi oleh semut-semut mungil nan manis dan rajin. Baik hati serta penolong. Satu menempel, lalu mundur. Satu lagi, lalu yang lain. Prosedur yang sama. Sistem yang sama.
Masih jauh dari sarang yang baru, tiba-tiba si besar kali ini terjatuh. Di lantai berputar-putar panik, lalu berjalan gak berarah menjauhi dinding tempat semut berarak.
Semut.
Naluri yang salah.
Sistem yang gagal.
Di dinding, kembali semut-semut merapikan barisan.
Gue beranjak. Si besar tergiring derasnya air yang tumpah dari gayung ketika gue sedang cebok. Masuk selokan.