Jangan ada tangis, adikku, sebab airmata milik surga
dan kita mahluk bawah langit.
Ingat saja pada tawa yang dahulu
Dan rayakan pula hidupku.
Selagi masa pra sekolah (umur gue masih 3 taun), nyokap memaksa gue untuk belajar membaca. Setiap hari kamis, di mulailah neraka kecil itu: majalah Bobo terbaru tergeletak di atas meja bersama sebuah buku tulis, potlot yang sudah diruncingkan, penghapus karet putih dengan kepala berwarna hijau. Dan sebilah penggaris kayu yang berjasa besar dalam memacu percepatan kemampuan membaca gue: tiap kali gue salah mengeja, maka nyokap akan mendaratkan satu atau dua ketokan penggaris ke kepala, atau pipi, atau punggung, atau tangan, atau seluruh tubuh gue.
Makasih, ya, penggaris kayu!
Jadi ketika masuk TK, gue selalu membuat guru-guru heran dan takjub karena gue sudah lancar membaca sementara teman-teman yang lain masih berkutat dengan I..n-I, ni. Ini. I..b-u,bu. Ibu. B-u,bu..d-I,di. Budi. Iiinnniii..iibbbuuuu..bb..buuudddddiiiiiii!!!
Kelas 3 SD daftar bacaan gue adalah Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Rumah Kecil di Padang Rumput, Wiro Sableng, Pendekar Rajawali Sakti, ‘Oh Mama, Oh Papa', Rubrik Seksologi Dr. Naek L Tobing, majalah Femina, Kartini, dll. Gue mengenal istilah macam selaput dara, penetrasi, ejakulasi, orgasme, eksibisionis, homoseksual, lesbian, dll. Gue cukup mengetahui bahwa masturbasi kurang lebih memiliki pengertian yang sama dengan onani, yang merupakan kebiasaan buruk bila dilakukan secara berlebihan dan dapat ditanggulangi dengan memperbanyak kegiatan seperti berolahraga. Suatu hari teman SD gue bercanda, lalu memukul bahu gue sebagai bagian dari candaannya. Gue kesakitan dan marah, lalu mengejar teman gue itu yang ternyata larinya lebih kencang dari gue. Dari kejauhan teman gue cengengesan sambil sesekali menjulurkan lidah. Karena rasa dongkol yang tidak lagi tertahan, gue berteriak sekencang-kencangnya: MAAASSSOOOKKKIIIISSSS!!!!!!!
Teman gue itu bingung. Lidahnya kembali ke tempatnya, mencoba menelan lalu mencerna magic word yang barusan gue lontarkan. Dia datang mendekat, lalu bertanya ‘tadi kamu bilang apaan,sih?
Ganti gue yang menjulurkan lidah dan menimpakan sebogem mentah ke bahunya. Lalu lari sejauh-jauhnya dengan rasa puas tak terhingga: lidah dibalas lidah, bahu dibalas bahu, ditambah bonus penjatuhan mental yang telak secara intelektual.
Kelas 5 SD, seorang teman membawa stensilan Anie Arrow (gue ga yakin tulisannya bener ato ga). Berbondong-bondong seluruh teman laki-laki mendaftar untuk masuk waiting list agar bisa meminjam buku itu dan membacanya di rumah. Sebulan kemudian gue pulang sekolah dengan jantung deg-degan ga karuan. Sampai di rumah gue ganti baju, lalu pergi ke kamar mandi, Anie Arrow terselip di pinggang. Pengalaman seksual gue yang pertama, jauh sebelum wet dream gue yang pertama. Judulnya Tante Rossa, wanita yang sangat mempesona sebab bulu kemaluannya luar biasa lebat!
Tapi sampai sejauh itu, technically gue ga tau yang namanya sex. Gue jago teori. Masih bisa dibanggakan sebab sex vocabulary gue jauh lebih lengkap dan sophisticated. Teman-teman gue bilang ‘mem*k' sementara gue bilang vagina. Gue bilang ejakulasi untuk menggantikan kata ‘moncrot', Sperma untuk ‘p*juh', Coitus untuk ‘ng*we'. Hanya saja banyak teman gue yang pada saat itu sudah melakukan ‘c0li' sementara gue masih kebingungan dengan caranya. GUe jago teori doang! Di saat pamer, teman-teman selalu membuat tanda serupa cincin dengan mempertemukan ujung ibu jari dengan ujung telunjuk lantas mengoyang-goyangkannya. DI kamar mandi, ‘cincin' itu sudah siap melingkar, tapi yang terjadi kemudian adalah rasa tidak nyaman dan gue segera menyudahi kegiatan itu dengan rasa kuatir bahwa gue ga normal. Mr. Happy gak mau bangun. Kata Dr. Naek, artinya gue menderita gejala impoten! Gue menyimpan rahasia itu dari teman-teman dan menutupinya dengan kecanggihan kosa kata gue. Tapi di dalam hati gue bertekad bahwa suatu hari gue akan berhasil. Setiap kali teringat metode cincin, gue selalu mencoba lagi, tapi tentu saja selalu gagal. Jelas lah, mana bisa berhasil. Yang bekerja hanya ibu jari dan telunjuk.
Suatu hari nyokap gue meminta gue untuk mengintip kakak gue di kamar mandi. Nyokap curiga sebab kakak gue selalu keluar dalam keadaan kering setiap kali habis dari kamar mandi.. Tidak ada suara gebyuran air, hanya gemericik sesekali. Misi gue adalah untuk memvalidasi kecurigaan nyokap bahwa kakak gue gak pernah mandi dengan beres, dan dengan validnya kecurigaan itu, maka ia punya bukti untuk menegur kakak gue.
Kok Barrie yang di suruh nginptip?
Mama kan perempuan! Nanti kakakmu malu kalau ketauan diintip sama mama.
Maka gue mengintip kakak gue dari celah ventilasi di atas pintu kamar mandi. Nyokap berdiri di dekat pintu dapur, menganggukkan kepala ketika gue menoleh ke arahnya.
Sunyi.
Cuma gemeresik sesekali terdengar dari dalam kamar mandi. Sekali lagi gue menoleh ke arah nyokap. Ia sudah mengintruksikan supaya gue bertahan selama mungkin dan turun dari kursi pijakan di waktu yang tepat agar ga ketauan kakak gue. Setelah memantapkan hati, gue mengatur posisi kepala agar bisa melihat apa yang ada di dalam kamar mandi.
Dan..
Eeenngg-Eiiiinnnnnggg-Eeeennngg...!!
Kurang dari waktu yang diinginkan oleh nyokap gue, gue menyudahi misi pengintipan itu. Gue dapat jawaban. Dua jawaban, actually.
Pertama: kakak gue memang ga mandi dengan properly.
Yang kedua : ibu jari dan telunjuk won’t do, but the whole fingers and palm forming a grab will absolutely rrrooooccckkk!!
3 hari kemudian gue merayakan pengetahuan itu dengan melakukan masturbasi untuk yang pertama kalinya. Kelas 2 SMP kalo ga salah..