
Ketika Ibumu berkata-kata di seberang yang jauh dengan suara lemas, apakah yang kau rasakan?
Mama sakit. Muntah-muntah terus, berak gak berenti-berenti.
Dunia berhenti dari putaran. Dalam perjalanannya, waktu dikutuk jadi batu.
Rasanya sakit.
Perempuan berusia limapuluh lima tahun, lambungnya berkedut-kedut menolak makanan, tenaganya habis oleh maraton lambat rute kamar tidur - kamar mandi.
Saya melihat matanya mengatup, menunjuk pada geligi yang menua, ditutup bibir keunguan yang rapat pada kulit yang riput. Tangannya memeluk guling dengan kuku kuning karena nikotin sejak muda. Punggungnya lengkung oleh pengalaman hidup sekian lama.
Rasanya sakit.
Di dunia saya yang beku, saya memijit-mijit tombol handphone, berharap memijit kakinya yang rebah di tanah. Suaranya kecil, mencicit lemah.
Dokternya baru ada jam enam.
Rasanya sakit.
Maka saya menyakiti Ibu saya dengan omelan-omelan kenapa tidak langsung ke UGD, kenapa letak kasur belum juga dipindah supaya tidak terkena angin AC.
Rasanya sakit.
Ketimbang waktu, lebih baik saya yang membatu. Menjadi buta dan tuli sebab saya tidak ingin merasa. Saya takut merasa. Saya takut menanggung. Saya takut menjadi.
Saya menolak doa, sebab hidup memberikan pada kita apa yang kita butuh. Yang saya mau waktu tidak berpihak. Saya menolak harapan, sebab masa depan menciutkan sisa umur. Yang saya mau Ibu hidup seribu tahun lagi.
Dan saya mati satu tahun lagi.